RSS

Tugas Kesmen ke 2

02 May

A.     Behaviorisme

Aliran ini diprakarsai oleh John B. Watson (1879-1958) yang lama di Universitas Johns Hopkins. Watson menolak bahwa pikiran sebagai subjek psikologi dan bersikeras bahwa psikologi dibatasi pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat diobservasi (atau secara potensial dapat diobservasi). Aliran perilaku mempunyai 3 Ciri penting:

  1. Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen-elemen atau bangunan perilaku.
  2. Menekankan pada perilaku yang dipelajari daripada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecendrungan-kecendrungan perilaku bawaan.
  3. Ciri ketiga behaviorisme difokuskan pada perilaku binatang. Menurut Watson, tidak ada perbedaan esensial antara perilaku manusia dan perilaku binatang dan bahwa kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.

B.     Psikoanalisis

Aliran ini ditemukan di Vienna, Austria oleh psikiatris Sigmund Freud (1856-1938). Selama prakteknya dengan pasien neurotik, Freud mengembangkan suatu teori perilaku dan pikiran dengan mengatakan bahwa kebanyakan apa yang kita lakukan dan pikirkan hasil dari keinginan atau dorongan yang mencari pemunculam dalam perilaku dan pikiran. Titik penting dari keinginan dan dorongan ini, menurut teori pikoanalisa, adalah bahwa mereka bersembunyi dari kesadaran individual, dengan kata lain, mereka tidak disadari. Ini adalah ekspresi dari dorongan tidak sadar yang muncul dalam perilaku dan pikiran. Istilah “motivasi yang tidak disadari”/ (Unconscious motivation) menguraikan ide kunci dari psikoanalisa.

C.     Gestalt

Sekolah psikologi ini didirikan di Jerman tahun 1912 oleh Max Wertheimer (1880-1994). Ahli psikologi ini merasa bahwa strukturalis terlalu kuat dalam memikirkan tentang mind (pikiran) yang dibangun dari dasar-dasar sederhana. Kata Jerman “gestalt” berarti “bentuk” atau “konfigurasi”, dan ahli psikologi menyebutkan bahwa “pikiran” adalah pola menyeluruh dari aktivitas sensori dan hubungannya dan pengorganisasian dalam pola tersebut. Contohnya: kita mengenali suatu nada ketika nada itu dialihkan ke kunci lain. Elemem telah diubah, tapi pola hubungan tetap sama. Jadi, penekanan dari ahli psikologi Gestalt dalam melawan struktualis adalah bahwa elemen dan itu tidak hanya sekedar menggabungkan elemen-elemen. Dengan kata lain, menurut ahli psikologi Gestalt, pikiran paling baik dipahami dalam cara elemen-elemen itu diorganisasi.

D.    Fungsionalisme

Ahli fungsionalis seperti Jogn Dewey (1871-1954), James R.Angell (1869- 1949), dan harvey Carr (1873-1954) di Universitas Chicago berpendapat bahwa psikologi seharusnya mempelajari “apa yang dilakukan pikiran dan perilaku”. Khususnya, mereka tertarik dalam kenyataan bahwa pikiran dan perilaku itu adaptive. Mereka dapat secara individual menyesuaikan lingkungan yang berubah. Sebagai pengganti keterbatasan diri mereka sendiri dalam deskripsi dan analisis pikiran, ahli fungsionalis melakukan eksperimen dalam belajar, memori, pemecahan masalah, dan motivai. Membantu manusia dan binatang beradaptasi dengan lingkungannya. Jelasnya, seperti nama dari sekolahnya yaitu fungsionalis, ahli psikolgoi mempelajari fungsi pikiran dan perilaku.

E.     Humanistik

Aliran ini muncul akibat reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Kedua aliran ini dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah. Aliran ini biasa disebut mazhab ketiga setelah Psikoanalisa dan Behaviorisme. Salah satu tokoh dari aliran ini – Abraham Maslow – mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat. Salah satu bagian dari humanistic adalah logoterapi. Adalah Viktor Frankl yang mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna). Pandangan ini berprinsip:

  1. Hidup memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun.
  2. Tujuan hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri.
  3. Kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.

Frankl mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II, di mana dia mengalami dan menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di kamp tersebut. Dia menyaksikan dua hal yang berbeda, yaitu para tahanan yang putus asa dan para tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa serta daya hidup yang perkasa. Frankl menyebut hal ini sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada hidupnya. Logoterapi ini sangat erat kaitannya dengan SQ, yang bisa kita kelompokkan berdasarkan situasi-situasi berikut ini:

  1. Ketika seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sa’di (seorang penyair besar dari Iran) menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di sebuah masjid di Damaskus. Namun di tengah kejengkelannya itu ia melihat bahwa ada seorang penceramah yang berbicara dengan senyum gembira. Kemudian tampaklah olehnya bahwa penceramah tersebut tidak memiliki sepasang kaki. Maka tiba-tiba ia disadarkan, bahwa mengapa ia sedih kehilangan sepatunya sementara ada orang yang masih bisa tersenyum walau kehilangan kedua kakinya.
  2. Makna muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan tawaran kerja bagus, dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus pindah dari Yogyakarta menuju Singapura. Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan materi namun di sisi lainnya ia kehilangan waktu untuk berkumpul dengan anak-anak dan istrinya. Dia menginginkan pekerjaan itu namun sekaligus punya waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mundur dari pekerjaan itu dan memilih memiliki waktu luang bersama keluarganya. Pada saat itulah ia merasakan kembali makna hidupnya.
  3. Ketika seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya: seorang rakyat jelata tiba-tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya. Ia merasakan suatu makna yang luar biasa dalam kehidupannya dan tak akan tergantikan oleh apapun. Demikian juga ketika kita menemukan seseorang yang mampu mendengarkan kita dengan penuh perhatian, dengan begitu hidup kita menjadi bermakna.
  4. Ketika kita dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang bendahara yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan berhasil menolak keinginannya sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk memuaskan keinginannya semata. Pada saat itu si bendahara mengalami makna yang luar biasa dalam hidupnya.
  5. Ketika kita mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang). Transendensi adalah pengalaman spiritual yang memberi makna pada kehidupan kita

Daftar Pustaka

  Prabowo, H. 1996. Psikologi Umum I. Jakarta: Universita Gunadarma Misiak, Henryk and Virginia Staudt Sexton, Ph.D. 1988 .Psikologi Fenomenologi Eksistensial dan Humanistik : Suatu Survai Historis. Bandung : PT Eresco

 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: