RSS

Dampak psikologis Tsunami di jepang dan Gangguan stress pasca trauma (Posttraumatic stress disorder)

23 Mar

Dampak psikologis Tsunami di jepang dan Gangguan stress pasca trauma (Posttraumatic stress disorder)

Selasa malam kemarin, kembali Jepang digoyang gempa yang cukup kuat. Berkekuatan 6,4 SR dengan kedalaman 10 km di wilayah Shizuoka. Cukup menggetarkan bagi kami yang tinggal di Fujisawa karena prefektur Shizuoka terletak bersebelahan dengan prefektur kami, Kanagawa. Ini mengingatkan kami kepada trauma terhadap gempa 9,0 SR pada hari Jumat, 11 Maret 2011. Yang paling merasakan dampaknya adalah anak kami yang masih balita. Dia menampakkan gejala stres. Namun, karena belum mampu mengutarakannya, dia hanya bisa diam. Ya, anak saya hanya diam ketika gempa datang atau ketika bunyi isyarat gempa terdengar dari televisi nasional, bahkan ketika mendengar kata “goyang” atau “gempa”. Reaksi diam dan wajah pucatnya akan tertinggal pada dirinya sampai satu atau dua jam pascagempa.

Semula kami sebagai orang tua bisa mengatasinya. Namun, dengan begitu seringnya terjadi gempa, begitu masifnya terjangan tsunami dan sekarang meningkatnya krisis nuklir di Fukushima, sebagai manusia biasa pun kami mengalami stres. Rasa stres dan khawatir itu tentu saja tidak hanya menghinggapi orang asing, tetapi orang Jepang juga. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya diguncang gempa besar 9,0 magnitudo, disusul tsunami yang meluluhlantakkan, dibuat was-was oleh krisis nuklir yang menyita perhatian dunia, dan disuguhi oleh berita di televisi seputar bencana secara terus-menerus. Bagi orang asing, ditambah lagi dengan berita-berita yang lebih heboh di tanah air; yang membuat keluarga besar di tanah air menjadi khawatir. Lama-lama, secara psikologis, itu akan berpengaruh besar kepada siapa saja.

Ketika mencoba membuka-buka Buku Panduan Pencegahan Bencana (Disaster Prevention Guidebook) dari pemerintah kota setempat, tidak ada  tips mengenai penanganan mental dan psikologi dalam situasi bencana. Semuanya hanya mengenai teknik persiapan menghadapi gempa, cara mengungsi, dan informasi seputar tempat pengungsian. Di televisi pun yang dibahas, selain dampak dan jumlah korban bencana, hanyalah hal seputar teknis-geologis yang untuk masyarakat awam (dalam keadaan darurat) sebenarnya tidak begitu penting lagi.

Yang kelihatannya terlewatkan dalam bencana gempa dan tsunami kali ini adalah penanganan aspek sosial dan psikologi dari bencana. Selain tidak adanya tips atau petunjuk pengelolaan aspek kejiwaan dalam situasi krisis bencana dalam buku panduan, menurut salah seorang rekan Jepang, agak cukup sulit pula mendapatkan bantuan tenaga psikolog untuk berkonsultasi seputar penanganan stres dalam bencana. Tenaga psikolog itu ada, tetapi biasanya di wilayah yang terkena dampak bencana paling luas dan parah.

Sekarang ini, di Jepang cukup banyak orang asing yang datang untuk belajar, bekerja, atau berwisata. Selain itu, juga banyak orang Jepang yang lahir, besar, atau pernah tinggal di luar negeri. Orang-orang seperti ini kemungkinan memiliki ambang batas toleransi yang tidak sama dengan orang Jepang yang lahir, besar, dan tinggal di Jepang dalam menghadapi bencana. Secara mental, barangkali orang Jepang biasa umumnya sudah siap dan terlatih sejak kecil menghadapi bencana alam, terutama gempa dan tsunami. Namun, hal yang sama mungkin tidak terdapat pada orang asing atau orang Jepang yang lama berada di luar negeri, terutama di negeri yang aman-aman saja dari gempa dan tsunami.

Dalam manajemen bencana, aplikasi teknologi penginderaan dan deteksi dini mungkin memang sangat perlu, tetapi penanganan aspek mental bagi anggota masyarakat yang terkena bencana juga tidak kalah pentingnya. Mudah-mudahan hal semacam ini bisa dipertimbangkan atau menjadi perhatian dalam menghadapi bencana besar di Jepang di kemudian hari.

Definisi Posttraumatic stress disorder

Gangguan stress pasca trauma atau posttraumatic stress disorder ditandai oleh pengulangan, ingatan yang mengganggu pada peristiwa traumatic yang menggoncang mereka.

  1. Peristiwa yang mengancam kematian atau luka serius bisa menyebabkan penderitaan yang hebat dan berlangsung lama.
  2. Orang yang terkena bisa mengingat peristiwa tersebut,mengalami mimpi buruk,dan menghindari apapun yang mengingatkan mereka pada peristiwa tersebut.
  3. Pengobatan bisa termasuk psikoterapi (mendukung dan melakukan terapi) dan pemberian obat antidepresan.

Mengalami atau melihat peristiwa yang traumatic yang mengancam kematian atau luka serius bisa mempengaruhi seseorang lama setelah pengalaman berlalu. Ketakutan hebat,ketidakberdayaan,atau pengalaman menakutkan selama peristiwa traumatic bisa menghantui seseorang.

Peristiwa yang bisa menyebabkan gangguan tekanan yang pasca-traumatik termasuk dibawah ini:

  1. Berhubungan dengan perang
  2. Mengalami atau melihat kekerasan fisik atau seks.
  3. Terkena bencana,baik alam (misalnya,angin topan) atau buatan manusia (missal,kecelakaan mobil hebat)

 

Kadangkala gejala tidak dimulai sampai berbulan-bulan atau bahkan tahunan setelah peristiwa traumati terjadi. Jika gangguan stress pasca-traumatic telah ada selama 3 bulan atau lebih,hal ini dianggap kronis.

Gangguan stress posttraumatic mempengaruhi setidaknya 8% orang kadangkala sepanjang hidup mereka,termasuk masa kanak-kanak. Banyak orang mengalami peristiwa traumatic,seperti veteran perang dan korban pemerkosaan atau kegiatan kekerasan lainnya, mengalami gangguan stress posttraumatic.

 

Gejala

Pada gangguan stress posttraumatic, orang mengalami frekwensi,ingatan yang tidak diinginkan menimbulkan kembali peristiwa traumatic. Mimpi buruk adalah biasa. Kadangkala peristiwa hidup kembali sebagaimana jika terjadi (flashback). Gangguan hebat seringkali terjadi ketika orang berhadapan dengan peristiwa atau keadaan yang mengingatkan mereka keada trauma asal. Missal beberapa ingatan adalah perayaan pada peristiwa traumatic tersebut, melihat senjata setelah dipukul dengan senjata ketika perampokan, dan berada di perahu kecil setelah kecelakaan tenggelam.

Orang secara terus menerus menghindari benda yang mengingatkan pada trauma. Mereka bisa juga berusaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau pembicaraan mengenai peristiwa traumati dan menghindari ingatan (amnesia) untuk aspek tertentu pada peristiwa yang taumatik. Orang mengalami rasa atau kematian pada reaksi emosional dan gejala yang muncul meningat (seerti kesulitan tertdur, menjadi waspada terhadap tanda bahaya beresiku, atau menjadi mudah terkejut).  Gejala pada depresi pada umum, dan orang menunjukkan sedikit ketertarikan pada aktifitas menyenangkan sebelumnya. Perasaan bersalah juga biasa. Missal, mereka bisa merasa bersalah bahwa ketika mereka bertahan hidup ketika orang lain tidak.

 

Pengobatan

Pengobatan memerlukan psikoterapi (termasuk terapi kontak) dan terapi obat. Karena sering kegelisahan hebat yang dihubungankan dengan kenangan yang menggoncangkan jiwa, psikoterapi mendukung memainkan tugas yang teramat penting pada pengobatan. Ahli terapi ialah secara terbuka empati dan bersimpati dalam mengenal rasa sakit psikologis. Ahli terami menentramkan orang bahwa respon mereka nyata tetapi menganjurkan mereka menghadapi kenangan mereka ( sebagai bentuk terapi kontak). Mereka juga diajar cara untuk mengontrol kegelisahan,yang menolong memodulasi dan mengintegrasikan kenangan menyiksa ke dalam kepribadian mereka.

Psikoterapi insight-oriented bisa membantu orang yang merasa bersalah memahami mengapa mereka menghukum diri mereka sendiri dan membantu menghilangkan perasaan bersalah.

Obat antidepresi kelihatannya memberikan beberap keuntungan. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), obat antidepresi trisiklik, dan monoamine oxidase inhibitors(MAOIs) sungguh membantu.

Gangguan stress posttraumatic chronic bisa tidak hilang tetapi seringkali sangat berkurang seiring waktu bahkan tanpa pengobatan. Meskipun demikian, beberapa orang menjadi cacat tetap dengan gangguan tersebut.

 


 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: