RSS

Tugas ke 3 Kesehatan mental

A. Pengertian Introvert dan ekstrovert

Konsep tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pertama sekali dikemukakan oleh Carl Gustaf Jung. Jung (dalam Suryabrata, 1998) mengungkapkan konsep jiwa sebagai dasar pembagian tipe kepribadian.

Konsep sikap jiwa dijelaskan sebagai arah daripada energi psikis umum atau libido yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Arah aktivitas energi psikis itu dapat ke luar ataupun ke dalam, dan arah orientasi manusia terhadap dirinya, dapat keluar ataupun ke dalam. Jadi, berdasarkan sikap jiwa tersebut manusia digolongkan jadi dua tipe yaitu: manusia yang bertipe introvert dan manusia yang bertipe ekstrovert.

Jung mendefinisikan tipe kepribadian introvert sebagai berikut: “Introversion is an attitude of psyche characterized by an orientation toward one’s own thoughts and feeling….when we say people are introver, we mean they are withdrawn and often shy and they tend to focus on themselves” (dalam Schultz dan Schultz, 1993).

Individu tipe kepribadian introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subjektifnya, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju ke dalam: pikiran, perasaan, serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan faktor-faktor subjektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik; jiwanya tertutup, sukar bergaul sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain (dalam Suryabrata, 1998).

Tipe kepribadian introvert bertolak belakang dengan tipe kepribadian ekstrovert, dimana Jung mengartikan tipe kepribadian ekstrovert sebagai berikut: “Extraversion is an attitude of psyche characterized by an orientation toward the external world and other people…..Extraverts are more open, sociable, and socially assertive” (dalam Schultz dan Schultz, 1993).

Individu yang tipe kepribadian ekstrovert terutama dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia di luar dirinya. Orientasinya terutama tertuju ke luar, pikiran, perasaan, serta tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannya baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Individu bersikap positif terhadap masyarakatnya; lebih terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan orang lain lancar (dalam Suryabrata, 1998).

Jung (dalam Suryabrata, 1998) menyatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk kedua sikap tersebut, tetapi hanya satu yang dominan dan sadar dalam kepribadiannya, sedangkan yang lain kurang dominan dan tidak sadar. Apabila ego lebih bersifat ekstrovert dalam relasinya dengan dunia maka ketidaksadaran pribadinya akan bersifat introvert.

Menurut Jung (dalam Ambarita, 2004) tipe-tipe ini dapat kita jumpai pada semua lapisan masyarakat, baik laki-laki ataupun perempuan, pada orang dewasa ataupun anak-anak. Pendidikan, lingkungan, jenis kelamin atau umur tidak berpengaruh pada terjadinya tipe-tipe ini. Dikatakan juga bahwa dalam satu keluarga kedua tipe ini, introvert dan ekstrovert dapat ditemukan sekaligus.

Jadi sikap kedua tipe ini (kepribadian ekstrovert dan introvert) terhadap dunia luar atau lingkungan sekitarnya bukanlah sikap yang diambil dengan sadar dan sengaja. Sikap yang demikian harus kita anggap mempunyai sebab tak sadar dan instinktif atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa tipe ini dalam lapangan ilmu jiwa memiliki dasar biologis (dalam Ambarita, 2004).

Jung menganggap sikap manusia terhadap dunia luar itu sebagai suatu soal penyesuaian diri, sebab cara suatu tipe menyesuaikan diri dengan dunia luar akhirnya akan bergantung kepada pembawaan si anak itulah yang pertama- tama akan menentukan ke dalam tipe mana kelak ia masuk (apakah tipe kepribadian ekstrovert atau introvert). Pembawaan itu pula yang menentukan bagaimana anak itu akan menyesuaikan diri dengan dunia luar.

 B. Pengertian Kecakapan

Menurut Depdiknas (2003), kecakapan hidup (life skill) merupakan kecakapan yang harus dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problem hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya. Adapun pengertian lainnya adalah „kecakapan hidup merupakan kecakapan yang dimiliki seseorang dalam menjalani hidup dan kehidupannya dalam statusnya sebagai mahkluk individu dalam konteks alam sekitar‟ (Rudiyanto, 2003). Menurut Satori (2002), kecakapan hidup tidak semata-mata memiliki kemampuan tertentu saja (vocational job), namun ia harus memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti membaca, menulis, menghitung, merumuskan dan memecahkan masalah, mengelola sumber-sumber daya, bekerja dalam tim atau kelompok, terus belajar di tempat bekerja, mempergunakan teknologi dan lain sebagainya.

DESKRIPSI KECAKAPAN HIDUP

Departemen Pendidikan Nasional (2003) membagi kecakapan hidup (life skill) menjadi dua macam yaitu :

1. Kecakapan Hidup Generik (General life skill, GLS)

Kecakapan hidup generik atau kecakapan yang bersifat umum, adalah kecakapan untuk menguasai dan memiliki konsep dasar keilmuan. Kecakapan hidup generik berfungsi sebagai landasan untuk belajar lebih lanjut dan bersifat transferable, sehingga memungkinkan untuk mempelajari kecakapan hidup lainnya. Kecakapan hidup generik terdiri dari :

a. Kecakapan Personal (Personal Skill), yang terdiri dari :

1) Kecakapan Mengenal Diri (Self-Awarness Skill)

Kecakapan mengenal diri meliputi kesadaran sebagai makhluk Tuhan, kesadaran akan eksistensi diri, dan kesadaran akan potensi diri. Kecakapan mengenal diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial, bagian dari lingkungan, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus meningkatkan diri agar bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya. Walaupun mengenal diri lebih merupakan sikap, namun diperlukan kecakapan untuk mewujudkannya dalam perilaku keseharian. Mengenal diri akan mendorong seseorang untuk beribadah sesuai agamanya, berlaku jujur, bekerja keras, disiplin, terpercaya, toleran terhadap sesama, suka menolong serta memelihara lingkungan. Sikap-sikap tersebut tidak hanya dapat dikembangkan melalui pelajaran agama dan kewarganegaraan, tetapi melalui pelajaran kimia sikap jujur (contoh : tidak memalsukan data hasil praktikum) dan disiplin (contoh : tepat waktu, taat aturan yang disepakati, dan tata tertib laboratorium) tetap dapat dikembangkan.

2) Kecakapan Berpikir (Thinking Skill)

Kecakapan berpikir merupakan kecakapan menggunakan pikiran atau rasio secara optimal. Kecakapan berpikir meliputi :

a) Kecakapan Menggali dan Menemukan Informasi (Information Searching)

Kecakapan menggali dan menemukan informasi memerlukan keterampilan dasar seperti membaca, menghitung, dan melakukan observasi. Dalam ilmu kimia, observasi melalui pengamatan sangat penting dan sering dilakukan.

b) Kecakapan Mengolah Informasi (Information Processing)

Informasi yang telah dikumpulkan harus diolah agar lebih bermakna. Mengolah informasi artinya memproses informasi tersebut menjadi suatu kesimpulan. Untuk memiliki kecakapan mengolah informasi ini diperlukan kemampuan membandingkan, membuat perhitungan tertentu, membuat analogi sampai membuat analisis sesuai informasi yang diperoleh.

c) Kecakapan Mengambil Keputusan (Decision Making)

Setelah informasi diolah menjadi suatu kesimpulan, tahap berikutnya adalah pengambilan keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang selalu dituntut untuk membuat keputusan betapun kecilnya keputusan tersebut.

Karena itu siswa perlu belajar mengambil keputusan dan menangani resiko dari pengambilan keputusan tersebut.

d) Kecakapan Memecahkan Masalsah (Creative Problem Solving Skill)

Pemecahan masalah yang baik tentu berdasarkan informasi yang cukup dan telah diolah. Siswa perlu belajar memecahkan masalah sesuai dengan tingkat berpikirnya sejak dini. Selanjutnya untuk memecahkan masalah ini dituntut kemampuan berpikir rasional, berpikir kreatif, berpikir alternatif, berpikir sistem dan sebagainya. Karena itu pola-pola berpikir tersebut perlu dikembangkan di sekolah, dan selanjutnya diaplikasikan dalam bentuk pemecahan masalah.

b. Kecakapan Sosial (Social Skill)

Kecakapan sosial disebut juga kecakapan antar-personal (inter-personal skill), yang terdiri atas :

1) Kecakapan Berkomunikasi

Yang dimaksud berkomunikasi bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi komunikasi dengan empati. Menurut Depdiknas (2002) : empati, sikap penuh pengertian, dan seni komunikasi dua arah perlu dikembangkan dalam keterampilan berkomunikasi agar isi pesannya sampai dan disertai kesan baik yang dapat menumbuhkan hubungan harmonis. Berkomunikasi dapat melalui lisan atau tulisan. Untuk komunikasi lisan, kemampuan mendengarkan dan menyampaikan gagasan secara lisan perlu dikembangkan. Berkomunikasi lisan dengan empati berarti kecakapan memilih kata dan kalimat yang mudah dimengerti oleh lawan bicara. Kecakapan ini sangat penting dan perlu ditumbuhkan dalam pendidikan. Berkomunikasi melalui tulisan juga merupakan hal yang sangat penting dan sudah menjadi kebutuhan hidup. Kecakapan menuangkan gagasan melalui tulisan yang mudah dipahami orang lain, merupakan salah satu contoh dari kecakapan berkomunikasi tulisan

2) Kecakapan Bekerjasama (Collaboration Skill)

Sebagai makhluk sosial, dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu memerlukan dan bekerjasama dengan manusia lain. Kecakapan bekerjasama bukan sekedar “bekerja bersama” tetapi kerjasama yang disertai dengan saling pengertian, saling menghargai, dan saling membantu. Kecakapan ini dapat

dikembangkan dalam semua mata pelajaran, misalnya mengerjakan tugas kelompok, karyawisata, maupun bentuk kegiatan lainnya.

2. Kecakapan Hidup Spesifik (Specific life skill, SLS)

Kecakapan hidup spesifik terkait dengan bidang pekerjaan (occupational) atau bidang kejuruan (vocational) tertentu. Jadi kecakapan hidup spesifik diperlukan seseorang untuk menghadapi masalah bidang tertentu. Kecakapan hidup spesifik ini meliputi :

a. Kecakapan Akademik (Academic Skill)

Kecakapan akademik disebut juga kecakapan intelektual atau kemampuan berpikir ilmiah dan merupakan pengembangan dari kecakapan berpikir. Kecakapan akademik sudah mengarah ke kegiatan yang bersifat akademik atau keilmuan. Kecakapan ini penting bagi orang yang menekuni bidang pekerjaan yang menekankan pada kecakapan berpikir. Oleh karena itu kecakapan ini harus mendapatkan penekanan mulai jenjang SMA dan terlebih pada program akademik di universitas. Kecakapan akademik ini meliputi antara lain kecakapan :

 mengidentifikasi variabel,

 menjelaskan hubungan variabel-variabel

 merumuskan hipotesis

 merancang dan melakukan percobaan

b. Kecakapan Vokasional / Kejuruan (Vocational Skill)

Kecakapan vokasional disebut juga kecakapan kejuruan, yaitu kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat. Kecakapan ini lebih cocok untuk siswa yang akan menekuni pekerjaan yang lebih mengandalkan keterampilan psikomotor. Jadi kecakapan ini lebih cocok bagi siswa SMK, kursus keterampilan atau program diploma. Kecakapan vokasional meliputi :

1) Kecakapan Vocasional Dasar (Basic Vocational Skill)

Yang termasuk kecakapan vokasional dasar antara lain : kecakapan melakukan gerak dasar, menggunakan alat sederhana, atau kecakapan membaca gambar.

2) Kecakapan Vocational Khusus (Occupational Skill)

Kecakapan ini memiliki prinsip dasar menghasilkan barang atau jasa. Sebagai contoh, kecakapan memperbaiki mobil bagi yang menekuni bidang otomotif dan meracik bumbu bagi yang menekuni bidang tata boga.

C. Nilai dan kebutuhan (Sosialisasi,adaptasi dan internalisasi)

1. Sosialisasi

Peter L. Berger mencatat adanya perbedaan penting antara manusia dengan makhluk lain. Berbeda dengan makhluk lain yang seluruh perilakunya dikendalikan oleh naluri yang diperoleh sejak awal hidupnya. Sementara hewan tidak perlu menentukan misalnya apa yang harus dimakannya karena hal itu sudah diatur naluri; manusia harus memutuskan apa yang harus dimakannya dan kebiasannya yang harus selalu ditegakkannya. (Sunarto, 1993:27). Karena keputusan yang diambil suatu kelompok dapat berbeda dengan kelompok lain, maka kemudian dijumpai keanekaragaman kebiasaan dalam soal makanan. Ada kelompok yang makanan pokoknya nasi, roti, sagu, jagung. Kalau hewan berjenis kelamin berlainan dapat saling berhubungan karena naluri, sementara manusia mengembangkan kebiasaan mengenai hubungan laki-laki dan perempuan. Kebiasaan yang berkembang dalam tiap kelompok tersebut kemudian menghasilkan berbagai macam sistem pernikahan yang berbeda satu sama lain. Kemudian keseluruhan kebiasaan yang dipunyai manusia tersebut, baik dalam bidang ekonomi, kekeluargaan, pendidikan, agama, politik dan sebagainya haris dipelajari oleh setiap anggota baru suatu masyarakat melalui suatu proses yang dinamakan sosialisasi.

2. Adaptasi

Ada beberapa pengertian tentang mekanisme penyesuaian diri, antara lain:
a. W.A. Gerungan (1996) menyebutkan bahwa “Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri)”.
Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan sifatnya pasif (autoplastis), misalnya seorang bidan desa harus dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma dan nilai-nilai yang dianut masyarakat desa tempat is bertugas.

Sebaliknya, apabila individu berusaha untuk mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan diri, sifatnya adalah aktif (alloplastis), misalnya seorang bidan desa ingin mengubah perilaku ibu-ibu di desa untuk meneteki bayi sesuai dengan manajemen laktasi.
b. Menurut Soeharto Heerdjan (1987), “Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan”.

Adaptasi merupakan pertahanan yang didapat sejak lahir atau diperoleh karena belajar dari pengalaman untuk mengatasi stres. Cara mengatasi stres dapat berupa membatasi tempat terjadinya stres, mengurangi, atau menetralisasi pengaruhnya.

Adaptasi adalah suatu cara penyesuaian yang berorientasi pada togas (task oriented).

Tujuan Adaptasi
a. Menghadapi tuntutan keadaan secara sadar.
b. Menghadapi tuntutan keadaan secara realistik.
c. Menghadapi tuntutan keadaan secara objektif.
d. Menghadapi tuntutan keadaan secara rasional.

Cara yang ditempuh dapat bersifat terbuka maupun tertutup, antara lain:
a. Menghadapi tuntutan secara frontal (terang-terangan).
b. Regresi (menarik diri) atau tidak mau tahu sama sekali.
c. Kompromi (kesepakatan).

Contoh:
Seorang mahasiswa gagal dalam ujian akhir program, mungkin is akan bekerja keras (terang-terangan), regresi dengan keluar dari pendidikan, serta mungkin mau mengulang lagi dengan berusaha semampunya (kompromi).

3. Internalisasi

a. Secara epistimologi Internalisasi berasal dari kata intern atau kata internal yang berarti bagian dalam atau di dalam. Sedangkan internalisasi berarti penghayatan (Peter and Yeni, 1991: 576).

b. Internalisasi adalah penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 439). 

c. Internalisasi adalah pengaturan kedalam fikiran atau kepribadian, perbuatan nilai-nilai, patokan-patokan ide atau praktek-praktek dari orang-orang lain menjadi bagian dari diri sendiri (Kartono, 2000: 236).

2. Nilai
a. Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang berguna penting bagi kemanusiaan (DEPDIKBUD, 1998; 25).

b. Sedangkan menurut Soekamto (Soekamto, 1981; 25), nilai adalah sesuatu yang dapat dijadikan sasaran untuk mencapai tujuan yang menjadi sifat keseluruhan tatanan yang terdiri dari dua atau lebih dari komponen yang satu sama lainnya saling mempengaruhi atau bekerja dalam satu kesatuan atau keterpaduan yang bulat dan berorientasi kepada nilai dan moralitas Islami.

 

c. Nilai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002; 783) berarti harga, angka kepandaian, banya sedikitnya isi atau sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakekatnya.

d. Nilai adalah suatu pola normatif, yang menentukan tingkahlaku yang diinginkan bagi suatu sistem yang ada kaitannya, dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi-fungsinya (Kartawisastra, dkk vol. 5, 1980; 1). 

Jadi internalisasi nilai-nilai adalah sebuah proses atau cara menanamkan nilai-nilai normatif yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu sistem yang mendidik sesuai dengan tuntunan Islam menuju terbentuknya kepribadian muslim yang berakhlak mulia
.
D. Reaksi stress: Flight or Fight

Stres adalah reaksi fisik dan psikologis tubuh anda terhadap kejadian-kejadian yang mengganggu keseimbangan hidup anda. Sebuah stresor adalah kondisi atau kejadian apapun yang dapat menyebabkan anda mengalami stres. Cara kerja stres sebenarnya cukup simpel. Ketika anda dihadapkan pada sebuah ancaman, baik yang sifatnya fisik maupun psikologis, tubuh anda akan mencoba bertahan dengan memberikan sebuah reaksi yang cepat dan otomatis. Reaksi ini dikenal sebagai fight or flight. Anda semua tahu bagaimana rasanya reaksi ini:  jantung anda berdebar-debar, otot-otot anda menegang, nafas anda menjadi lebih cepat, dan tiap indera tubuh anda menjadi lebih tajam dari biasanya.

Reaksi fight or flight melibatkan banyak perubahan biologis yang menyiapkan anda untuk bertindak darurat. Ketika anda merasakan bahaya, sebuah bagian kecil dari otak anda, yaitu bagian hypothalamus, akan melepaskan sebuah peringatan kimiawi ke dalam tubuh anda. Sistem saraf anda menanggapi peringatan tersebut dengan membanjiri tubuh anda dengan hormon-hormon yang berhubungan dengan stres, seperti adrenalin, epinephrine, dan cortisol. Hormon-hormon tersebut menyebar ke dalam tubuh anda, dan mempersiapkannya untuk menghindari atau melawan bahaya yang anda rasakan. Detak jantung dan aliran darah menuju otot anda bertambah, sehingga anda dapat berlari lebih cepat atau melawan dengan lebih keras. Pembuluh darah di bawah kulit anda menyempit untuk mencegah anda kehilangan darah bila anda terluka. Pupil mata anda melebar sehingga anda dapat melihat lebih jelas. Kadar gula darah anda meningkat, sehingga tenaga dan kecepatan reaksi anda bertambah. Pada saat yang bersamaan, fungsi-fungsi tubuh anda yang tidak diperlukan dalam keadaan tersebut akan diperlambat. Sistem pencernaan dan reproduktif anda dipelankan, hormon-hormon pertumbuhan anda dimatikan, dan sistem kekebalan tubuh anda dihambat.

Sebenarnya, stres dan reaksi tubuh anda terhadap stres berfungsi untuk melindungi dan mendukung diri anda. Reaksi stres inilah yang membantu manusia-manusia purba untuk bertahan dari situasi hidup atau mati yang sering kali mereka alami. Tetapi, dalam dunia modern, kebanyakan stres yang anda alami merupakan respon terhadap ancaman yang bersifat psikologis, bukan fisik. Baik terjebak macet, maupun terlambat datang kuliah merupakan stresor. Tetapi, keduanya sebenarnya tidak membutuhkan reaksi fight or flight. Anda tidak harus melawan mobil-mobil lain yang menghalangi anda, atau melarikan diri dari dosen yang tidak mau mengabsen anda, bukan? Masalahnya, tubuh anda tidak dapat membedakan sifat dari ancaman yang anda alami. Tanpa mempedulikan apakah anda stres karena deadline suatu pekerjaan semakin dekat, pertengkaran dengan seorang teman, atau kesal karena tidak memiliki uang, bel peringatan tubuh anda akan berbunyi. Lalu, seperti sebuah manusia purba yang berhadapan dengan sebuah macan, tubuh anda akan memberikan reaksi fight or flight.

Bila anda memiliki banyak tanggung jawab dan beban pikiran, mungkin anda mengalami stres pada sebagian besar hidup anda. Tubuh anda mungkin memberikan reaksi stres setiap kali anda terjebak macet, setiap kali handphoneanda berdering, atau setiap kali anda mendengar berita buruk di televisi. Masalahnya, semakin sering dinyalakan, reaksi stres anda menjadi semakin sulit untuk dimatikan. Dengan kata lain, ketika ancaman yang anda alami sudah lewat, tingkat hormon stres, detak jantung, dan kadar gula darah anda tetap tinggi. Terlebih lagi, aktifasi reaksi stres yang berlebihan dan berkepanjangan memiliki dampak yang kurang baik terhadap tubuh. Stres yang berlebihan meningkatkan kemungkinan anda untuk mengalami berbagai masalah kesehatan fisik dan psikologis, seperti serangan jantung, obesitas, kecemasan yang berlebihan, depresi, dan gangguan ingatan. Bila tidak ditangani, stres yang berlebihan juga dapat menyebabkan kematian.

Hans Selye dalam Girdano (2005) mengatakan bahwa terdapat dua jenis stres, yaitu eustress dan distressEustressadalah semua bentuk stres yang mendorong tubuh anda untuk beradaptasi dan meningkatkan kemampuan anda untuk beradaptasi. Ketika tubuh anda mampu menggunakan stres yang anda alami untuk membantu anda melewati sebuah hambatan dan meningkatkan performa anda, stres tersebut bersifat positif, sehat, dan menantang. Di sisi lain, distress adalah semua bentuk stres yang melebihi kemampuan anda untuk mengatasinya, membebani tubuh, dan menyebabkan masalah fisik atau psikologis. Ketika seseorang mengalami distress, orang tersebut akan cenderung bereaksi secara berlebihan, bingung, dan tidak dapat berperforma secara maksimal. Performa anda akan optimal saat tingkat eustress dan distress anda kurang lebih seimbang.

E. Teknik penenangan pikiran

1. Meditasi

Pada awalnya meditasi adalah nama generik yang diberikan untuk belajar agama di daerah Timur. Tujuan utama dalam meditasi (a) perenungan dan kebijaksanaan, (b) perubahan dalam kesadaran (c) relaksasi (L. Lichstein, 1988). Efek meditasi oleh banyak pakar diyakini membawa dampak positif bagi kehidupan manusia (Satiadarma, 1998). Dewasa ini meditasi digunakan dalam banyak hal. Ada yang melaksanakan meditasi untuk mendapatkan kedamaian dan kekuatan jiwa. Istilah meditasi telah dikenal luas baik, baik dari pendekatan awam maupun ilmiah. Akan tetapi banyak orang yang belum memahami tentang meditasi itu sendiri. Berikut akan dikupas kajian mengenai meditasi

Kebanyakan orang mempersepsikan meditasi dengan ritual agama tertentu bahkan ada yang mengkaitkan perdukunan atau klenik. Walsh, Orntein, dan Maupin (dalam Subandi dkk, 2002) meditasi adalah suatu teknik latihan dalam meningkatkan kesadaran, dengan membatasi kesadaran pada satu objek stimulasi yang tidak berubah pada waktu tertentu untuk mengembangkan dunia internal atau dunia batin seseorang, sehinga menambah kekayaan makna hidup baginya. Iskandar (2008) meditasi adalah latihan olah jiwa yang dapat menyeimbangkan fisik, emosi, mental, dan spiritual seseorang. Beberapa ahli memberikan istilah lain tentang meditasi (dalam P. Satiadarma, 1998) yaitu Visualisasi (Epstein, 1988; Fanning, 1988), relaksasi (Benson, 1975), mind-body healing (Rossi, 1988), dan Mind-body medicine (Goleman&Gurin, 1993).
 
2. Autogenik

Menurut weinberg, R.S. & Gould,D (1999), latihan autogenik merupakan satu latihan untuk menghasilkan dua bentuk sensasi yaitu hangat dan berat. pendapat Dr. Claude Brodeur, (2000) menyatakan bahwa latihan autogenik merupakan salah satu asas kepada latihan (Psychomatik) melalui kaedah sensasi.
Cox,R.H (1990), pula berpendapat latihan autogenik ini dapat melegakan perasaan dan anggota badan seperti tangan, kaki dan otot-otot pada tubuh badan dalam jangka waktu yang sama. Monty, P.Satiadarma (2000), menafsirkan autogenik sebagai salah satu latihan mental untuk menghasilkan dua bentuk sensasi hangat dan berat. terapi ini juga merupakan satu bentuk terapi untuk mereka yang menghadapi masalah psikologis. pendapat Dr.Shaharuddin Abd,Aziz (2000) dalam bukunya “mengaplikasi teori psikologi dalam sukan” menyatakan latihan autogenik ini merupakan satu bentuk latihan mental yang dirancang untung melahirkan kedua-dua sensasi hangat dan berat sebagai feedback kepada relaksasi. latihan ini hampir sama dengan latihan progresis karena kedua-duanya menghasilkan feedback kepada otot. cuma yang membedakan kedua latihan ini adalah fokus prosedur relaksasi yang memberi penerangan tentang rasa berat dan hangat.

3. Neuromuscular

Neuromuscular junction adalah tempat dalam tubuh tempat akson dari saraf motorik bertemu dengan otot dalam upaya transmisi sinyal dari otak yang memerintahkan otot untuk berkontraksi atau berrelaksasi.

Potensial aksi masuk ke serabut otot  melalui sinapsis antara serabut saraf dan otot (neuromuscular junction). Di dalam synaptic knob terdapat synaptic vesicles yang mengandung asetilcolin sebagai neurotransmitter. Pada saat ada sinyal dari otak untuk berkontraksi, vesicles berisi neurotransmitter melebur ke membran synaptic melepas asetilcolin. Asetilcolin berdifusi melewati synaptic cleft dan diterima oleh molekul reseptornya yang berupa channel ion Na+ dalam membran sel serabut otot. Kombinasi keduanya membuka channel Na+ dan menyebabkan peningkatan permeabilitas membran sel terhadap ion Na+ dan menghasilkan influx Na+ dalam inisiasi serabut saraf pada potensial aksi serabut otot. Asetilcolin yang telah mempolarisasi serabut otot dan menghasilkan potensial aksi kemudian merambatkan potensial aksi tersebut hingga ke dalam tubula transversal. Di dalam sel otot, potensial aksi menginisiasi terlepasnya Ca2+ dari retikulum sarkoplasmik ke dalam sitoplasma. Ca2+ memulai peluncuran filamen dengan memicu pengikatan miosisn ke aktin. Ototpun berkontraksi. Asetilcolin kemudian dilepas ke synaptic cleft dan serabut otot dan dihancurkan dengan bantuan enzim asetilcolineterase. Enzim ini menghancurkan struktur satu aksi potensi dalam sel saraf.

JENIS KONTRAKSI

1.   Kontraksi isometrik : otot tidak dapat memendek, ketegangan berubah atau meningkat selama kontraksi tanpa adanya perubahan panjang otot, merespon panjang yang konstan dari postural otot pada tubuh.  Contoh: pergerakan otot bagian punggung.

2.   Kontraksi isotonik : ketegangan konstan pada jumlah tertentu, panjang otot berubah atau memendek. Contoh: pergerakan tangan atau jari (dominan isotonik).

ALL OR NONE CONTRACTION

Tingkat kekuatan tegangan yang dapat dimodulasi oleh sebuah unit motorik dalam all or none contraction sangat kecil. Hal ini terjadi karena tidak adanya gradasi dari ketidakaktivan dan permulaan kontraksi otot. Pada vertebrata, masalah dalam meningkatkan tegangan otot keseluruhan secara bergradasi diselesaikan dengan merekrut motorik aktif dalam jumlah banyak dan menvariasikan frekuensi rata-rata pengaktifan salah satu atau beberapa populasi motorik untuk menghasilkan tegangan.

GRADING CONTRACTION

Sistem saraf arthopoda terdiri dari jumlah neuron yang relatif sedikit dan sebagian kecil motorik yang menyelesaikan kontraksi baik lemah maupun kuat tanpa motorik lain. Selanjutnya, otot yang banyak pada arthopoda yang tidak memproduksi potensial aksi, atau memproduksi potensial aksi atau memproduksi hanya dalam respon terhadap input sinapsis pada ujung saraf tertentu. Pada otot motorik vertebrata, kontraksi dikontrol dengan cara depolarisasi membran serabut otot yang tergradasi, tidak dengan cara mengontrol frekuensi potensial aksi otot.

 

F. Pengalaman Eustress & Distress

 

1. Eustress

Eustress adalah stress positif yang terjadi ketika tingkatan stress cukup tinggi untuk memotivasi agar bertindak untuk mencapai sesuatu. Esustress adalah stress yang baik yang menguntungkan kesehatan seperti latihan fisik dan mencapai promosi.

Contoh : Saya mengalami Eustress apabila terlalu banyak tugas dengan deadline yang sangat dekat, itu mendorong saya untuk bekerja lebih giat tanpa saya sadari. contohnya tugas ini.

2. Distress

Distress atau stress negatif terjadi ketika tingkatan stress terlalu tinggi dan terlalu rendah dan tubuh dan pikiran mulai menanggapi stressor dengan negatif. distress di lain pihak merupakan stress yang mengganggu kesehatan dan sering menyebabkan ketidak seimbangan antara tuntuta stress dan kemampuan untuk memenuhi tuntutan. dengan demikian penanganan stress dapat meningkatkan motivasi dan stimulus. apabila kita memiliki kemampuan untuk memenuhi tuntutan lingkungan, kita dapat menggunakan stress dengan cara yang efektif.

Contoh : Stress yang satu ini saya alami saat terlalu banyak masalah dan pikiran yang tidak terselesaikan yang pada akhirnya membuat saya menjadi pusing dan badmood. itu juga berpengaruh kepada kesehatan saya yang menjadi lemah.

 
Leave a comment

Posted by on June 8, 2013 in Uncategorized

 

Tugas Kesmen ke 2

A.     Behaviorisme

Aliran ini diprakarsai oleh John B. Watson (1879-1958) yang lama di Universitas Johns Hopkins. Watson menolak bahwa pikiran sebagai subjek psikologi dan bersikeras bahwa psikologi dibatasi pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat diobservasi (atau secara potensial dapat diobservasi). Aliran perilaku mempunyai 3 Ciri penting:

  1. Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen-elemen atau bangunan perilaku.
  2. Menekankan pada perilaku yang dipelajari daripada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecendrungan-kecendrungan perilaku bawaan.
  3. Ciri ketiga behaviorisme difokuskan pada perilaku binatang. Menurut Watson, tidak ada perbedaan esensial antara perilaku manusia dan perilaku binatang dan bahwa kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.

B.     Psikoanalisis

Aliran ini ditemukan di Vienna, Austria oleh psikiatris Sigmund Freud (1856-1938). Selama prakteknya dengan pasien neurotik, Freud mengembangkan suatu teori perilaku dan pikiran dengan mengatakan bahwa kebanyakan apa yang kita lakukan dan pikirkan hasil dari keinginan atau dorongan yang mencari pemunculam dalam perilaku dan pikiran. Titik penting dari keinginan dan dorongan ini, menurut teori pikoanalisa, adalah bahwa mereka bersembunyi dari kesadaran individual, dengan kata lain, mereka tidak disadari. Ini adalah ekspresi dari dorongan tidak sadar yang muncul dalam perilaku dan pikiran. Istilah “motivasi yang tidak disadari”/ (Unconscious motivation) menguraikan ide kunci dari psikoanalisa.

C.     Gestalt

Sekolah psikologi ini didirikan di Jerman tahun 1912 oleh Max Wertheimer (1880-1994). Ahli psikologi ini merasa bahwa strukturalis terlalu kuat dalam memikirkan tentang mind (pikiran) yang dibangun dari dasar-dasar sederhana. Kata Jerman “gestalt” berarti “bentuk” atau “konfigurasi”, dan ahli psikologi menyebutkan bahwa “pikiran” adalah pola menyeluruh dari aktivitas sensori dan hubungannya dan pengorganisasian dalam pola tersebut. Contohnya: kita mengenali suatu nada ketika nada itu dialihkan ke kunci lain. Elemem telah diubah, tapi pola hubungan tetap sama. Jadi, penekanan dari ahli psikologi Gestalt dalam melawan struktualis adalah bahwa elemen dan itu tidak hanya sekedar menggabungkan elemen-elemen. Dengan kata lain, menurut ahli psikologi Gestalt, pikiran paling baik dipahami dalam cara elemen-elemen itu diorganisasi.

D.    Fungsionalisme

Ahli fungsionalis seperti Jogn Dewey (1871-1954), James R.Angell (1869- 1949), dan harvey Carr (1873-1954) di Universitas Chicago berpendapat bahwa psikologi seharusnya mempelajari “apa yang dilakukan pikiran dan perilaku”. Khususnya, mereka tertarik dalam kenyataan bahwa pikiran dan perilaku itu adaptive. Mereka dapat secara individual menyesuaikan lingkungan yang berubah. Sebagai pengganti keterbatasan diri mereka sendiri dalam deskripsi dan analisis pikiran, ahli fungsionalis melakukan eksperimen dalam belajar, memori, pemecahan masalah, dan motivai. Membantu manusia dan binatang beradaptasi dengan lingkungannya. Jelasnya, seperti nama dari sekolahnya yaitu fungsionalis, ahli psikolgoi mempelajari fungsi pikiran dan perilaku.

E.     Humanistik

Aliran ini muncul akibat reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Kedua aliran ini dianggap merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah. Aliran ini biasa disebut mazhab ketiga setelah Psikoanalisa dan Behaviorisme. Salah satu tokoh dari aliran ini – Abraham Maslow – mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat. Salah satu bagian dari humanistic adalah logoterapi. Adalah Viktor Frankl yang mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna). Pandangan ini berprinsip:

  1. Hidup memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun.
  2. Tujuan hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri.
  3. Kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami bahkan dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.

Frankl mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II, di mana dia mengalami dan menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di kamp tersebut. Dia menyaksikan dua hal yang berbeda, yaitu para tahanan yang putus asa dan para tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa serta daya hidup yang perkasa. Frankl menyebut hal ini sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada hidupnya. Logoterapi ini sangat erat kaitannya dengan SQ, yang bisa kita kelompokkan berdasarkan situasi-situasi berikut ini:

  1. Ketika seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sa’di (seorang penyair besar dari Iran) menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di sebuah masjid di Damaskus. Namun di tengah kejengkelannya itu ia melihat bahwa ada seorang penceramah yang berbicara dengan senyum gembira. Kemudian tampaklah olehnya bahwa penceramah tersebut tidak memiliki sepasang kaki. Maka tiba-tiba ia disadarkan, bahwa mengapa ia sedih kehilangan sepatunya sementara ada orang yang masih bisa tersenyum walau kehilangan kedua kakinya.
  2. Makna muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan tawaran kerja bagus, dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus pindah dari Yogyakarta menuju Singapura. Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan materi namun di sisi lainnya ia kehilangan waktu untuk berkumpul dengan anak-anak dan istrinya. Dia menginginkan pekerjaan itu namun sekaligus punya waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mundur dari pekerjaan itu dan memilih memiliki waktu luang bersama keluarganya. Pada saat itulah ia merasakan kembali makna hidupnya.
  3. Ketika seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya: seorang rakyat jelata tiba-tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya. Ia merasakan suatu makna yang luar biasa dalam kehidupannya dan tak akan tergantikan oleh apapun. Demikian juga ketika kita menemukan seseorang yang mampu mendengarkan kita dengan penuh perhatian, dengan begitu hidup kita menjadi bermakna.
  4. Ketika kita dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang bendahara yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan berhasil menolak keinginannya sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk memuaskan keinginannya semata. Pada saat itu si bendahara mengalami makna yang luar biasa dalam hidupnya.
  5. Ketika kita mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang). Transendensi adalah pengalaman spiritual yang memberi makna pada kehidupan kita

Daftar Pustaka

  Prabowo, H. 1996. Psikologi Umum I. Jakarta: Universita Gunadarma Misiak, Henryk and Virginia Staudt Sexton, Ph.D. 1988 .Psikologi Fenomenologi Eksistensial dan Humanistik : Suatu Survai Historis. Bandung : PT Eresco

 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2013 in Uncategorized

 

Kesehatan Mental 1

Tugas I

A. Pengertian Kesehatan Mental

Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial) (Mujib dan Mudzakir, 2001)

Sedangkan menurut Zakiyah (1975), Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi jiwa, serta kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

B. Karakteristik kepribadian yang sehat

            Menurut Syamsu Yusuf (2004), Karakteristik pribadi yang sehat mentalnya secara psikologi diantaranya yaitu:

  1. Respek terhadap diri sendiri dan orang lain
  2. Memiliki insight dan rasa humor
  3. Memiliki respons emosional yang wajar
  4. Mampu berpikir realistic dan objektif
  5. Terhindar dari gangguan psikologis
  6. Bersifat kreatif dan inovatif
  7. Bersifat terbuka dan fleksibel, tidak defensive
  8. Memiliki perasaan bebas (Sense of freedom)

Kesehatan mental dilihat dari beberapa dimensi.

Ada beberapa dimensi pada kesehatan mental diantaranya dimensi Emosi, sosial, fisik,intelektual dan spiritual.

  1. Dimensi Emosi

Sebuah perasaan kesejahteraan yang positif yang mana memungkinkan seorang individu untuk bisa berfungsi dalam masyarakat dan memenuhi tuntutan kehidupan sehari-hari. orang dengan kesehatan mental yang baik memiliki kemmapuan untuk pulih kembali dari penyakit, perubahan atau kemalangan.

Menjadi anak muda yang membawa banyak faktor resiko yang mana memiliki dampak yang negatif pada kesejahteraan emosi anak muda, seperti perumahan kumuh, kerugian ekonomi, penyakit serius dan lain2. beberapa dari faktor tersebut bisa  menyebabkan dampak secara mendalam pada kepercayaan diri kaum muda dan kemampuan mereka untuk belajar. sebanyak 1 dari 5 anak2 di kelas mungkin mengalami masalah psikologikal pada suatu waktu.

Setiap hari emotional well-being juga melibatkan mengidentifikasi, membangun, dan mengoperasikan kekuatan kalian dibandingkan dengan memfokuskan pada penyelesaian masalah atau kelemahannya. semakin baik anda bisa menguasai emosi, maka kapasitas untuk menikmati hidup akan lebih baik juga, dengan mengatasi masalah, dan fokus pada prioritas kepentingan pribadi.

Apa keuntungan yang kalian kira?

Beberapa keuntungan dalam mendapatkan kesejahteraan emosi termasuk mengetahui betapa pentingnya kebutuhan kalian dan berhak mendapatkan kehidupan yang bahagian dan rasa aman. sebagaimana kalian menyeimbangkan emos, kalian dapat mengidentifikasi keinginan hati kalian, mengambil tindakan positif dan membuat perubahan dalam kehidupan kalian.

Dengan kesejahteraan emosi (emotional well-being), kalian dapat merasakan

a.    penyembuhan- penyembuhan dari stres, kecemasan, depresi, kesedihan dan

masalah yang lain.

b.    perubahan- untuk membantu merupah pola pikir, perasaan dan perilaku.

c.    percaya diri- sebagaimana kalian mendapatkan kepercayaan dan keyakinan kepada diri sendiri.

d.    pertumbuhan-untuk hidup lebih menjadi diri kalian sendiri

  1. Dimensi Sosial

Mambangun dan menjaga kenyamanan dalam berhubungan menjadi wajar karena kita mahluk sosial. diterima dalam lingkungan sosial juga berkaitan dengan kesejahteraan emosi kita. Itu mengapa kita penting melakukan hal-hal seperti dibawah ini.

a. Kita seharusnya meningkatkan kemampuan kita dalam berinteraksi dengan  masyarakan dan memahami ide mereka dengan pikiran yang terbuka (open mind)

b. Menerima dan mengerti norma budaya yang berbeda

c. Membangun jaringan diantara masyarakat yang berbeda-beda.

d. Meniru citra diri yang positif

Mempertinggi kemampuan dalam berkomunikasi antara sesama

3.  Dimensi Fisik

Mental dan fisik adalah dua komponen yang berbeda. Dari segi bahasa, mental sering disebut dengan jiwa (psikis) dan fisik biasa disebut tubuh (raga). Keduanya adalah komponen penyusun manusia, yang saling mempengaruhi.

Sebagai contoh kaitan fisik dengan psikis, yaitu orang yang sakit dalam waktu yang lama, maka akan berdampak pada kesehatan psikis. Kemungkinan karena kesehatan fisik yang terganggu bisa membuat seseorang stress berat, hingga mengalami depresi yang merupakan tanda-tanda gangguan jiwa. Gangguan fisik yang mempengaruhi keadaan mental disebut dengan gangguan psikosomatik. Gangguan fisik ini dapat mempengaruhi keadaan emosi seseorang. Seorang yang sakit gigi misalnya, dapat menjadi pendiam atau bahkan beringas jika ada sesuatu yang menggangunya.

Begitu juga sebaliknya, banyak orang yang mengeluh pusing, migraine, sakit kepala, bahkan lumpuh, secara fisik tiada ada diagnosa penyakit yang dideritanya. Dalam dunia medis ini disebut gangguan somatoform. Somatoform adalah gangguan mental yang mempengaruhi fisik, tetapi pada dasarnya, fisiknya tidak mengalami gangguan apa-apa. Kepercayaan orang yang mengalami gangguan somatorm ini, bahwa dirinya mengidap sebuah penyakit yang kronis. Tentu saja, untuk mengobatinya, bukan dengan mengobati fisiknya. Tetapi mengobati psikisnya yang merupakan gangguan terhadap fisik. Seorang yang lumpuh karena somatoform misalnya, bukan dengan terapi fisik seperti fisioterapi, tetapi dengan psikoterapi, karena penyebabnya adalah psikis.

Pembahasan diatasmenunjukkan bahwa kedua gangguan diatas, mental dan psikis sama-sama mempunyai pengaruh yang sangat besar. Jika salah satunya sakit, membuat yang lain mengalami disfungsi.

  1. Dimensi Intelektual

Intelektual adalah sebuak kemampuan kognitif untuk mengembangkan keahlian dan pengetahuan. Kapasitas kemampuan intelektual kita membantu untuk merangsng kreatifitas dan meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan. Untuk mengembangkan kemampuan intelektual kita diperlukan beberapa hal seperti :

a. Menentukan tujuan yang realistik.

b. Menggali setiap kesempatan dengan pikiran terbuka.

c. Menyadari tuntutat dan harapan orang lain terhadap kalian

d. Pandangan positif, terutama dalam menghadapi sebuah masalah.

e. Dimensi spiritual.

Kesehatan kita yang baik belum lengkap tanpa diimbangi dengan kesehatan spiritual. Untuk mencari arti dan tujuan dari hidup adalah fungsi dari spiritual. Kesehatan spiritual mengacu kepada keyakinan pribadi masing2 individu. Ada beberapa cara untuk mendapatkan kesejahteraan spiritual dengan cara melihat lebih dalam dan mengerti tentang kehidupan kita.

Kesimpulan

Seperti yang kita tahu hidup itu seperti teka-teki. Dimensi kesehatan seperti kepingan yang terpisah dan perlu untuk disatukan bersama-sama demi untuk mendapatkan sebuah arti. Walaupun kita semua mencari keseimbangan yang harmoni antara pikiran, tubuh, dan jiwa untuk memenuhi hidup kita, sangat jarang semuanya terpenuhi. Kita merasa lemah dan tidak diterima dalam hidup menyebabkan banyak kesulitan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sedikit mengerti tentang peran dimensi diatas mungkin akan membantu kita dalam mengetahui apa yang sungguh kita cari. Kesehatan dan kebahagiaan.

Tugas II

  1. Erik Erikson

Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.

Teori Erikson dikatakan sebagai salah satu teori yang sangat selektif karena didasarkan pada tiga alasan. Alasan yang pertama, karena teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia. Kedua, menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan, dan yang ketiga/terakhir adalah menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan. Melalui teorinya Erikson memberikan sesuatu yang baru dalam mempelajari mengenai perilaku manusia dan merupakan suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami persoalan/masalah psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini. Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia.

Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah sebuah asumpsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia. Proses yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic Principle” yang sudah dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan persepsinya pada saat itu bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetic. Di mana Erikson dalam teorinya mengatakan melalui sebuah rangkaian kata yaitu :

(1)   Pada dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas.

(2)   Masyarakat, pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat  setiap individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam tahap-tahap yang ada.

Meminjam kata-kata Erikson melalui seorang penulis buku bahwa “apa saja yang tumbuh memiliki sejenis rencana dasar, dan dari rencana dasar ini muncullah bagian-bagian, setiap bagian memiliki waktu masing-masing untuk mekar, sampai semua bagian bersama-sama ikut membentuk suatu keseluruhan yang berfungsi. Oleh karena itu, melalui delapan tahap perkembangan yang ada Erikson ingin mengemukakan bahwa dalam setiap tahap terdapat maladaption/maladaptif (adaptasi keliru) dan malignansi (selalu curiga) hal ini berlangsung kalau satu tahap tidak berhasil dilewati atau gagal melewati satu tahap dengan baik maka akan tumbuh maladaption/maladaptif dan juga malignansi, selain itu juga terdapat ritualisasi yaitu berinteraksi dengan pola-pola tertentu dalam setiap tahap perkembangan yang terjadi serta ritualisme yang berarti pola hubungan yang tidak menyenangkan. Menurut Erikson delapan tahap perkembangan yang ada berlangsung dalam jangka waktu yang teratur maupun secara hirarkri, akan tetapi jika dalam tahap sebelumnya seseorang mengalami ketidakseimbangan seperti yang diinginkan maka pada tahap sesudahnya dapat berlangsung kembali guna memperbaikinya.

Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson adalah sebagai berikut :

Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini

Developmental Stage Basic Components
Infancy (0-1 thn)Early childhood (1-3 thn)Preschool age (4-5 thn)School age (6-11 thn)

Adolescence (12-10 thn)

Young adulthood ( 21-40 thn)

Adulthood (41-65 thn)

Senescence (+65 thn)

Trust vs MistrustAutonomy vs Shame, DoubtInitiative vs GuiltIndustry vs Inferiority

Identity vs Identity Confusion

Intimacy vs Isolation

Generativity vs Stagnation

Ego Integrity vs Despair

  1. Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)

Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.

Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. Kepercayaan ini akan terbina dengan baik apabila dorongan oralis pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman dan tepat waktu, serta dapat membuang kotoron (eliminsi) dengan sepuasnya. Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat menentukan perkembangan kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila seorang ibu bisa memberikan rasa hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas kepada bayi mereka, maka bayi itu akan mengembangkan perasaan dengan menganggap dunia khususnya dunia sosial sebagai suatu tempat yang aman untuk didiami, bahwa orang-orang yang ada didalamnya dapat dipercaya dan saling menyayangi. Kepuasaan yang dirasakan oleh seorang bayi terhadap sikap yang diberikan oleh ibunya akan menimbulkan rasa aman, dicintai, dan terlindungi. Melalui pengalaman dengan orang dewasa tersebut bayi belajar untuk mengantungkan diri dan percaya kepada mereka. Hasil dari adanya kepercayaan berupa kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya serta juga mempercayai kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap lingkungannya.

Sebaliknya, jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan kepada bayinya, dan tidak dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau jika ada hal-hal lain yang membuat ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya demi memenuhi keinginan mereka sendiri, maka bayi akan lebih mengembangkan rasa tidak percaya, dan dia akan selalu curiga kepada orang lain.

  1. Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu

Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.

Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu. Dengan kata lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya sangat memperhatikan anaknya dalam aspek-aspek tertentu misalnya mengizinkan seorang anak yang menginjak usia balita untuk dapat mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya, anak tersebut akan bisa mengembangkan rasa mandiri atau ketidaktergantungan. Pada usia ini menurut Erikson bayi mulai belajar untuk mengontrol tubuhnya, sehingga melalui masa ini akan nampak suatu usaha atau perjuangan anak terhadap pengalaman-pengalaman baru yang berorientasi pada suatu tindakan/kegiatan yang dapat menyebabkan adanya sikap untuk mengontrol diri sendiri dan juga untuk menerima control dari orang lain. Misalnya, saat anak belajar berjalan, memegang tangan orang lain, memeluk, maupun untuk menyentuh benda-benda lain.

  1. Inisiatif vs Kesalahan

Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.

Tahap ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan. Masa-masa bermain merupakan masa di mana seorang anak ingin belajar dan mampu belajar terhadap tantangan dunia luar, serta mempelajari kemampuan-kemampuan baru juga merasa memiliki tujuan. Dikarenakan sikap inisiatif merupakan usaha untuk menjadikan sesuatu yang belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada masa genital ini mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengembangkan sikap menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan.

  1. Kerajinan vs Inferioritas

Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.

Tahap keempat ini dikatakan juga sebagai tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri. Saat anak-anak berada tingkatan ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya.

Tingkatan ini menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada awalnya hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia bahwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam belajar. Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu, peranan orang tua maupun guru sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan anak pada usia seperti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang dialami oleh anak-anak pada umumnya menimpa anak-anak yang cenderung lebih banyak bermain bersama teman-teman dari pada belajar, dan hal ini tentunya tidak terlepas dari peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol mereka. Kecenderungan maladaptif akan tercermin apabila anak memiliki rasa giat dan rajin terlalu besar yang mana peristiwa ini menurut Erikson disebut sebagai keahlian sempit. Di sisi lain jika anak kurang memiliki rasa giat dan rajin maka akan tercermin malignansi yang disebut dengan kelembaman. Mereka yang mengidap sifat ini oleh Alfred Adler disebut dengan “masalah-masalah inferioritas”. Maksud dari pengertian tersebut yaitu jika seseorang tidak berhasil pada usaha pertama, maka jangan mencoba lagi. Usaha yang sangat baik dalam tahap ini sama seperti tahap-tahap sebelumnya adalah dengan menyeimbangkan kedua karateristik yang ada, dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam diri setiap pribadi yakni kompetensi.

  1. Identitas vs Kekacauan Identitas

Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota

Pencapaian identitas pribadi dan menghindari peran ganda merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam tahap ini. Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas tidak hanya berada dalam area keluarga, sekolah namun dengan masyarakat yang ada dalam lingkungannya. Masa pubertas terjadi pada tahap ini, kalau pada tahap sebelumnya seseorang dapat menapakinya dengan baik maka segenap identifikasi di masa kanak-kanak diintrogasikan dengan peranan sosial secara aku, sehingga pada tahap ini mereka sudah dapat melihat dan mengembangkan suatu sikap yang baik dalam segi kecocokan antara isi dan dirinya bagi orang lain, selain itu juga anak pada jenjang ini dapat merasakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam kehidupan orang lain. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan siapakah dirinya. Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego sebelumnya yang merupakan ego sintesis. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego telah dijalani sejak berada dalam tahap pertama/bayi sampai seseorang berada pada tahap terakhir/tua. Oleh karena itu, salah satu point yang perlu diperhatikan yaitu apabila tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar atau tidak berlangsung secara baik, disebabkan anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya, inilah yang disebut dengan identity confusion atau kekacauan identitas.

  1. Keintiman vs Isolasi

Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.

Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasa terisolasi. Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif yang muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.

  1. Generativitas vs Stagnasi

Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.

Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.

Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik.

  1. Integritas vs Keputusasaan

Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya

Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap ini akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat. Kecenderungan terjadinya integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan maladaptif yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka tidak mau menghadapi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan kecemasan lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara malignansi yang disebut dengan sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumaph serapah dan menyesali kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan antara integritas dan kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh suatu sikap kebijaksanaan.

Siegmund freud

Teori Freud. Psikoanalisis hampir diidentikan dengan sosok seorang Freud. Sigmund Freud (1856-1939) lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg Moravia yang pada masa itu merupakan provinsi di bagian utara Kekaisaran Autro Hongaria dan sekarang adalah wilayah Republik Ceska.

Dalam buku Sejarah dan Sistem Psikologi oleh James F. Brennan pada tahun 2006, pandangan freud terus berkembang selama kariernya yang panjang. Hasil kolektif tulisan tulisan yang luas merupakan sebuah sistem rinci tentang perkembangan kepribadian. Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id, Ego dan Superego. Ketiga struktur tersebut diyakininya terbentuk secara mendasar pada usia tujuh tahun.

Struktur ini dapat ditampilkan secara diagramatik dalam kaitannya dengan aksesibilitas bagi kesadaran atau jangkauan kesadaran individu. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.

Ego merupakan sebuah pengatur agar id dapat dipuaskan atau disalurkan dalam lingkungan sosial. Sistem kerjanya

pada lingkungan adalah menilai realita untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Sedangkan Superego sendiri adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan nilai baik-buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan Ego yaitu Id.

1.      Kesadaran dan Ketidaksadaran

Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya.

Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan.

Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.

2.      Kecemasan

Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan.

Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Menurut Freud kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral.

  1. Kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata.
  2. Kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat  sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum, dan
  3. Kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.

3.      Mekanisme Pertahan Ego

Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah:

  1. Represi ; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran.
  2. Memungkiri ; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatic.
  3. pembentukan reaksi ; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran.
  4. Proyeksi ; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar.
  5. Penggeseran ; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”.
  6. Rasionalisasi ; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur.
  7. Sublimasi ; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi.
  8. Regresi ; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami.
  9. Introjeksi ; yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain.
  10. Konpensasi.
  11. ritual dan penghapusan.

 

 4.      Tahap Perkembangan Kepribadian

Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap. Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun, meliputi beberapa tahap yaitu tahap oral, tahap anal, tahap phalik, tahap laten, dan tahap genital

  1. C.    Allport

Allport adlaah orang yang mengemukakakn pentingnya penyelidikan kualitatif tentang kasus individual dan menekankan motivasi sadar. Ia juga menekankan pentingnya variabel motivasi, mengakui pentinya peranan yang dimainkan faktor-faktor genetik atau konsittusional dan menggunakan secara mencolok konsep-konsep tentang ‘ego’.

  1. Struktur dan dinamika kepribadian
    1. Dalam teori Allport, kedua hal ini tidak dapat dipisahkan
    2. Struktur kepribadian diuraikan dalam bentuk sifat-sifat (traits), namun dalam pada tingkah laku juga dimotivasikan atau digerakkan oleh sifat2 (traits) itu.
    3. Jadi, struktur dan dinamika itu pada dasarnya satu dan sama
    4. Tekanan utama teori : sifat (traits), sedangkan sikap (attitudes) dan intensi diberikan kedudukan yang hampir sama.
    5. Sifat-sifat merupakan konstruk motivasi yang utama.
    6. Sifat pada teori Allport = kebutuhan/Needs (Murray) =  Insting (Freud) =  Sentimen (McDougall).

1.1  Definisi kepribadian

Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam seseorang yang teridiri dari sistem-sistem psikofisisi yang menentukan keunikan penyesuaian dirinya dengan lingkungan.

Dua hal yang menjadi tekanan utama adalah kepribadian merupakan sesuatu yang berkembanga dan unsur-unsurnya saling terkait.

Dalam pencarian definisi kepribadiannya Allport dengan hati-hati menyadari istilah karakter dan tempramen.

  1. Karakter (watak) adalah segi kepribadian yang dinilai. Seseorang sering dinilai memilki karakter bak/buruk.
  2. Tempramen adalah disposisi yang erat kaitannya dengan faktor biologis atau fisik, dalam hal ini hereditas memainkan pernan penting dan bersama intelegensi dan fisi membentuk kepribadian.

1.2  Sifat-sifat dan Dispoisi-disposisi personal :

Sifat adalah kecendrungan atau berespon dengan cara tertentu. Sifat bukanlah bentuk konsep abstrak lewat sebuah pengamatan melainkan kenyatan objektif. Selain itu sifat juga bukanlah sekedar eksistensi nominal.

Pembedaan sifat :

  1. Sifat umum (Common trait) : ciri-ciri (sifat) yang terdapat pada banyak orang.
  2. Disposisi Personal (Individual trait) : keunikan-kekhususan (sifat) pada individu.

Contoh : dalam sebuah kelompok ada 20 orang menunjukan sifat keagresifan (common trait). Tapi kita tidak bisa mengatakan 20 orang itu menunjukkan/mewujudkan keagresifannya lewat jalan yang sama. Mungkin ada yang asertif dan kompetitif, sarkastik, dan bermusuhan, dan mungkin lewat kekerasan fisik. Personal deposisi dapat disebut juga sebagai sub kategori atau jalan khsusus sifat terwujud.

Sifat tidak hanya membimbing suatu tingkah laku tapi juga memulai tingkah laku dalam beberapa hal memerankan peran memotivasi yang penting.

Contoh : seseorang yang punya sifat ramah/suka bergaul, tidak suka duduk sendiri di rumah menunggu orang lain menghubunginya. Dia kana mencari teman-temannya.

            Akan tetapi sebuah sifat tidak pernah sebagai motivator murni tingkah laku beberapa dorongan baik internal maupun eksternal yang mendahului tindakan.

Contoh : Jika seseorang suka pergi ke disko, secara umum dia orang yang suka bergaul tapi ada tingkah laku khusu bahwa dia suka mendengarkan musik.

1.3  Cardinal Trait, Central Trait, Secondary Trait

Merupakan salah satu dari hasil karya Allport dimana ia mencari kata-kata dalam kamus yang sekiranya dapat mencerminkan sifat seseorang. Dari hasil pencarian tersebut, Allport menemukan kirapkira 4500 kata.

Lalu Allport membaginya ke dalam tiga tingkatan, yaitu :

a. Cardinal trait

Sifat luar biasa khas yang hanya dimiliki sedikit orang, sifat yang sangat berperan dan mendominasi keseluruhan hidupnya.

Contoh : Narsisitik, Sadistik, Chauvinistik, Don yuan, dsb

b. Central trait

Kecendrungan sifat yang menjadi ciri seseorang, menjadi titik pusat tingkah lakunya.

Contoh : posesif, ambisius, baik hati, senang kompetitif, agresif, dsb.

c. Secondary Trait

Bergungsi terbatas, kurang menentukan dalam deskripsi kepribadian dan lebih terpusat pada respon terhadap rentang stimulus situasi yang sempit. Jarang dipakai atau hanya dipakai pada kesempatan yang sangat khusus.

Contoh : seseorang yang biasanya sabar menjadi marah meledak-ledak ketika seseorang menghina kelompok etnik penyabar itu.

Dua kekhususan teori Allport adalah penolakkannya pada masa lalu yang mengambil bagian penting dalam motivasi dan ketegasannya dalam proses kognitif seperti intensi, perencanaan pada motivasi orang dewasa. Apa yang dilakukan individu adalah kunci petunjuk yang penting tentang bagaimana orang bertingkah laku sekarang. Allport mencari ke masa depan apa yang diharapkan oleh individu.

Daftar Pustaka

Mujib,A dan Mudzakir,J. (2001). Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Suryabrata, Sumadi. (2003). Psikologi Kepribadian. Jakarta:  PT. Raja Grafindo Persada

Yusuf, Syamsu. 2004. Mental Hygiene Perkembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama. Bandung: Bani Quraisyi.

Nama : Okky Yudistira
Kelas : 2PA06

Npm  : 15509565

 
Leave a comment

Posted by on April 9, 2013 in Uncategorized

 

Pengaruh teknologi dan psikologi

Hubungan internet dengan psiklogi

Kemajuan teknologi berdampak pada kemudahaan akses terhadap setiap piranti seperti ponsel, komputer tablet, atau komputer jinjing. Permasalahnya, ketika anak kecil mulai kerajingan internet hal itu memberikan pengaruh terhadap perkembangan mental dan psikologisnya.

Para peneliti sejak lama mengamati hal ini. Sekian lama mengkaji dan menelaah dampak internet pada anak, mereka memutuskan untuk memasukan kecanduan internet pada anak tergolong pada gangguan mental. Itu juga termasuk pada mereka yang kecanduan ponsel pintar, atau komputer rumahan sekalipun.

Peneliti Australia yang tergabung dalam Masyarakat Psikologis Australia (PSA) telah menyampaikan usulannya itu kepada masyarakat internasional. Ketika itu diterima, maka akan dilakukan studi lanjutan guna memastikan kelayakan usulan tersebut.

Peneliti Universitas Teknologi Swinburne, Mike Kyrios mengatakan studi lanjutan akan dilaksanakan dengan harapan para profesional kesehatan dapat mendiagnosa anak-anak terkait prilaku adiktif sebagai dampak dari penggunaan teknologi secara berlebihan. Mereka, nantinya akan memberikan solusi penyembuhan ketergantungan tersebut.

“Masalah game sudah jelas. Tetapi secara umum, penggunaan teknologi berlebihan dapat menjadi masalah potensial,” kata dia seperti dilansir Daily Mail, Rabu (3/10).

Psikolog Emil Hodzic menyambut baik niatan itu sebab terdapat banyak permintaan orang tua terkait masalah kecanduan teknologi. Jika anak mulai frustrasi hal tersebut berbahaya. “Biasanya, tanda khas dari kecanduan adalah adanya gejala penarikan diri,” kata dia.

Ia mengungkapkan sebanyak 70 persen kliennya adalah anak-anak dan remaja. Mereka yang datang kebanyakan mengaku kesulitan untuk tidak mengakses internet.  “Jadi sudah jadi ketergantungan,” kata dia.

Pemakaian internet yang mudah dan cepat, akan mempermudah anak-anak dibawah umur menggunakannya. Ini akan berakibat anak dibawa umur dapat melihat yang tidak panatas, seperti pornografi, kekerasan dan banyak hal lagi. Orang tua dalam hal ini sebagai pengawas, harus memberi pengawasan ekstra kepada anak-anak nya. Karena dampak negatif dari internetsangatlah buruk.

Contoh saja, anak-anak belum bisa membagi waktu dengan benar, mereka bisa saja kelupaan mengerjakan kewajibannya karena asyik bermain internet sehingga lupa waktu.Terlebih apabila mereka membuka situs yang berbau pornografi, dampak psikologis bagi si anak sangatlah buruk. Bahkan penggunaan internet yang berlebihan pada orang dewasa-pun tidak kalah berdampak negatif. Sebut saja seorang pegawai di perusahaan lupa akan pekerjaan utamanya karena penggunaan internet yang berlebihan.Selain itu, penggunaan internet yang sangat berlebihan dapat membuat seseorang menjadi lupa waktu dan akhirnya menjadi kecanduan, hal ini biasa disebut (Internet Addiction Disorder /IAD). Jika individu tersebut sulit mengontrol waktu, maka akan semakin banyak yang terabaikan.

Contohnya: makan tidak teratur, tidur tidak teratur, kelelahan fisik, kegagalan dalammengatur waktu , kegagalan menyelesaikan tugas, kegagalan pendidikan/pekerjaan, sertagangguan psikologis. Seorang psikiater dari New York university, menemukan adanya gangguankejiwaan pada individu yang kecanduan internet, yang disebut sebagai ‘Truman Show Delusion´, beberapa ahli psikologi lain menyebutnya sebagai  ‘Internet Delusion´.

 
Leave a comment

Posted by on January 10, 2013 in Uncategorized

 

Obesitas

Image

A.    Pengertian Obesitas

Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebihan di dalam badan atau kegemukan yang berlebihan (KBBI, 1996). Papalia dan Olds (1995) mengatakan bahwa obesitas atau kegemukan terjadi jika individu mengkonsumsi kalori yang berlebihan dari yang mereka butuhkan. Sarafino (1998) juga mengatakan bahwa obesitas adalah sebagai suatu simpanan yang berlebih dalam bentuk lemak yang berdampak buruk bagi kesehatan. Pengertian obesitas dalam psikologis menurut Wurtman & Wurtman (1996) adalah simpanan energi yang berlebihan dalam bentuk lemak, yang berdampak buruk bagi kesehatan dan perpanjang usia. Dari penjelasan-penjelasan dapat disimpulkan bahwa obesitas merupakan keadaan yang tidak dikehendaki, yaitu dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal.

B.     Jenis-jenis obesitas

            Klasifikasi obesitas berdassarkan tingkat keparahannya dan tipenya terutama pada anak-anak (Soetjiningsih, 2004) :

1. Berdasarkan keparahannya

Moderate obesity : bila berat badan antara 120-170% dari berat badan idealnya

Severe obesity  : bila berat badan lebih dari 170% dari berat badal ideal.

C.    Faktor-faktor penyebab Obesitas

Zainun Mu’tadin (2002) mengemukakan bahwa faktor-faktor penyebab obesitas diantaranya adalah faktor genetik, disfungsi salah satu bagian otak, pola makan yang berlebih, kurang gerak / olahraga, emosi, dan factor lingkungan.

1.Genetik

Seringkali kita menjumpai anak-anak yang gemuk dari keluarga yang salah satu atau kedua orang tuanya gemuk juga. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetic telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh. Pada saat ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi selama dalam kandungan. Dengan demikian tidak heran apabila bayi yang dilahirkan pun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar

2. Kerusakan pada salah satu bagian otak.

Perilaku makan seseorang dikendalikan oleh sistem pengontrol yang terletak pada suatu bagian otak yang disebut hipotalamus. Hipotalamus merupakan sebuah kumpulan inti sel dalam otak yang langsung berhubungan dengan bagian-bagian lain dari otak dan kelenjar dibawah otak. Hipotalamus mengandung lebih banyak pembuluh darah dari daerah lain pada otak, sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh unsur kimiawi dari darah. Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang menggerakan nafsu makan (awal atau pusat makan); hipotalamus ventromedial (HVM) yang bertugas merintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat kenyang). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur maka individu menolak untuk makan atau minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan.

3. Pola makan berlebihan.

Pola makan berlebihan cenderung dimiliki oleh orang yang kegemukan. Orang yang kegemukan biasanya lebih responsif dibanding dengan orang yang memiliki berat badan normal terhadap isyarat lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau saatnya waktu makan. Mereka cenderung makan bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia lapar. Pola makan yang berlebihan inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk keluar dari kegemukan apabila tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang kuat untuk mengurangi berat badan.

4. Kurang gerak atau olahraga.

Berat badan berkaitan erat dengan tingkat pengeluaran energi tubuh. Pengeluaran energi ditentukan oleh dua faktor, yaitu:

a). Tingkat aktivitas dan olah raga secara umum;

b). Angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga dari pengeluaran energi orang normal. Walaupun aktivitas fisik hanya mempengaruhi sepertiga dari pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang kegemukan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Ketika berolahraga kalori terbakar, makin sering berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang bekerja dengan duduk seharian akan mengalami penurunan metabolisme basal tubuhnya. Jadi olah raga sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya metabolisme normal.

5. Pengaruh emosional.

Pada beberapa kasus obesitas bermula dari masalah emosional yang tidak teratasi. Orang-orang yang memiliki permasalahan menjadikan makanan sebagai pelarian untuk melampiaskan masalah yang dihadapinya. Makanan juga sering dijadikan sebagai subtitusi untuk pengganti kepuasan lain yang tidak tercapai dalam kehidupannya. Dengan menjadikan makanan sebagai pelampiasan penyelesaian masalah maka apabila tidak diimbangi dengan aktifitas yang cukup akan menyebabkan terjadinya kegemukan.

6. Lingkungan.

Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk. Jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan tersebut tidak dipengaruhi oleh factor eksternal maka orang yang obesitas tidak akan mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan kegemukan.

D.    Penyembuhan Obesitas

Cara mengatasi obesitas bisa dimulai dengan mengubah gaya hidup, yaitu :

1. Mengatur pola makan

2. Olah raga secara teratur, tidak berlebihan.

 
Leave a comment

Posted by on December 18, 2012 in Uncategorized

 

CBIS

I. Database

A. Pengertian database

  1. Database adalah kumpulan informasi yang disimpan di dalam computer secara sistematik sehingga dapat diperiksa menggunakan suatu program computer untuk memperoleh informasi dari basis data tersebut
  2. Database adalah representasi kumpulan fakta yang saling berhubungan disimpan secara bersama sedemikian rupa dan tanpa pengulangan (redudansi) yang tidak perlu, untuk memebuhi berbagai kebutuhan.
  3. Database merupakan sekumpulan informasi yang saling berkaitan pada suatu subjek tertentu pada tujuan tertentu pula
  4. Database adalah susunan record data operasional lengkap dari suatu organisasi atau perusahaan, yang diorganisir dan disimpan secara terintegrasi dengan menggunakan metode tertentu dalam computer sehingga mampu memenuhi infomasi yang optimal yang dibutuhkan oleh para pengguna

B. Tipe Database

Terdapat 12 tipe database, antara lain operational database, analytical database, data warehouse, distributed database, end-user database, external database, hypermedia database on the web, navigational database, in-memory databases, Document-oriented databases, Real-time databases, dan Relational Database.

1.   Operational database

Database ini menyimpan data rinci yang diperlukan untuk mendukung operasi dari seluruh organisasi.  Mereka juga disebut subject-area databases (SADB), transaksi database, dan produksi database. Contoh: database pelanggan, database pribadi, database inventaris, akuntansi database.

2.  Analytical database

Database ini menyimpan data dan informasi yang diambil dari operasional yang dipilih dan eksternal database. Mereka terdiri dari data dan informasi yang dirangkum paling dibutuhkan oleh sebuah organisasi manajemen dan End-user lainnya. Beberapa orang menyebut analitis multidimensi database sebagai database, manajemen database, atau informasi database.

3.  Data warehouse

Sebuah data warehouse menyimpan data dari saat ni dan tahun-tahun sebelumnya – data yang diambil dari berbagai database operasional dari sebuah organisasi. Data warehouse menjadi sumber utama data yang telah diperiksa, diedit, standard an terintegrasi sehingga dapat digunakan oleh para manajer dan pengguna akhir lainnya di seluruh organisasi professional. Perkembangan terakhir dari data warehouse adalah dipergunakan sebagai shared nothing architecture untuk memfasilitasi ekstrem scaling.

4.   Distributed database

Ini adalah database-kelompok kerja local dan departemen di kantor regional, kantor cabang, pabrik-pabrik dan lokasi kerja lainnya. Database ini dapat mencakup kedua segmen yaitu operasional dan user database, serta data yang dihasilkan dan digunakan hanya pada pengguna situs sendiri.

5.   End user databse

Databse ini terdiri dari berbagai file data yang dikembangkan oleh end-user di workstation mereka. Contoh dari ini adalah koleksi dokumen dalam spreadsheet, word processing dan bahkan download file.

6.   External database

Database ini menyediakan akses ke eksternal, data milik pribadi online – tersedia untuk biaya kepada pengguna akhir dan organisasi dari layanan komersial. Akses ke kekayaan informasi dari database eksternal yang tersedia untuk biaya dari layanan online komersial dengan atau tanpa biaya dari banyak sumber internet.

7.   Hypermedia databases on the web

Ini adalah kumpulan dari halaman-halaman multimedia yang saling berhubungan di sebuah situs web. Mereka terdiri dari home page dan halaman hyperlink lain dari multimedia atau campuran media seperti teks, grafik, gambar foto, klip, video, audio, dll

8.   Navigational database

Dalam navigasi databse, queries menemukan benda terutama dengan mengikuti referensi dari objek lain.

9.   In-memory databases

Database di memori terutama bergantung pada memori utama untuk penyimpanan data computer. Ini berbeda dengan system manajemen database yang menggunakan disk berbasis mekanisme penyimpanan. Database memori utama lebih cepat dariapda dioptimalkan disk database sejak optimasi algoritma internal menjadi lebih sederhana dan lebih sedikit CPU mengeksekusi instruksi. Mengakses data dalam menyediakan memori lebih cepat dan lebih dapat diprediksi kinerja dari disk. Dalam telekomunikasi yang mengoperasikan system darurat, database memori utama yang sering digunakan.

10.   Document-oriented databases

Document-oriented databases merupakan program computer yang dirancang untuk aplikasi berorientasi dokumen. System ini bisa diimplementasikan sebagai lapisan diatas sebuah database relasional atau objek databse. Sebagai lawan dari database relasional, dokumen berbasis database tidak menyimpan data dalam table dengan ukuran seragam kolom untuk setiap record. Sebaliknya, mereka menyimpan setiap catatan sebagai dokumen yang memiliki karakteristik tertentu. Sejumlah bidang panjang apapun dapat ditambahkan ke dokumen, bidang yang dapat juga berisi beberapa bagian data.

11.   Real-time

Real-time database adalah system pengolahan dirancang untuk menangani beban kerja negara  yang  dapat berubah terus-menerus. Ini berbeda dari database tradisional yang mengandung data yang terus meneru, sebagian besar tidak terpengaruh oleh waktu. Sebagai contoh, pasar saham berubah dengan cepat dan dinamis. Real-time processing berarti bahwa transaksi diproses cukup cepat bagi hasil untuk kembali dan bertindak segera. Real-time databae yang berguna untuk akuntansi, perbankan, hukum, caatatan medis, multi-media, control proses, system reservasi, dan analisis data ilmiah.

12.   Relational database

Standar komputasi bisnis sejak tahun 2009, relational database adalah database yang paling umum digunakan saat ini. menggunakan meja untuk informasi struktur sehingga mudah untuk mencari

Contoh Database:

 

 

 

II. Pengertian Sistem Informasi

          Sistem informasi dalam suatu pemahaman yang sederhana dapat didefinisikan sebagai satu system berbasis computer yang menyediakan informasi bagai beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa. Para pemakai biasanaya tergabung dalam suatu entitas organisasi formal, seperti depertemen atau lembagau suatu instansi pemerintahan yang  dapat dijabarkan menjadi direktorat, bidang, bagian sampai pada unit terkecil dibawahnya. Informasi menjelaskan mengenai organisasi atau salah satu system utamanaya mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang mungkin akan terjadi dimasa yang akan datang tentang organisasi tersebut. System informasi memuat berbagai informasi penting mengenai orang, tempat dan segala sesuatu yang ada di dalam atau di lingkungan sekitar organisasi. Informasi sendiri mengandung suatu arti yaitu data yang telah diolah ke dalam suatu bentuk yang lebih memiliki arti dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Data sendiri merupakan fakta-fakta yang mewakili suatu keadaan, kondisi, atau peristiwa yang terjadi atau ada di dalam atau dilingkungan fisik organisasi. Data tidak dapat langsung digunakan untuk pengambilan keputusan, melainkan harus diolah lebih dahulu agar dapat dipahami, lalu dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan. Informasi harus dikelola dengan baik dan memadai agar memberikan manfaat maksimal. Penerapan system informasi di dalam suatu organisasi dimaksudkan untuk memberikan dukungan informasi yang dibuthkan, khususnya oleh para pengguna informasi dari berbagai tingkatan manajemen. System informasi yang digunakan oleh para pengguna dari berbagai tingkatan manajemen ini biasa disebut sebagai : system informasi manajem. Sistem informasi mengandung tiga aktivitas dasar di dalamnya, yaitu : aktivitas masukan (input), pemrosesan (processing), dan keluaran (output). Tiga aktivitas dasar ini menghasilkan informasi yang dibutuhkan organisasi untuk pengambilan keputusan, pengendalian operasi, analsis permasalahm dan menciptakan produk atau jasa baru. Masukan berperan di dalam pengumpuln bahan menta (raw data), baik yang diperoleh dari dalam maupun dari lingkungan sekitar organisasi. Pemrosesan berperan untuk mengkonversi bahan mentah menjadi bentuk yang lebih memiliki arti. Sedangkan, keluaran dimaksudkan untuk transfer informasi yang diproses kepada pihak-pihak atau aktivitas-aktivitas yang akan menggunakan. System informasi juga membutuhkan umpan balik (feedback), yaitu untuk dasar ealuasi dan perbaidkan tahap input berikutnya.

Contoh Sistem Informasi Manajemen :

Image

III. SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

A. Pengertian Pembuatan Keputusan (Decision Support System)

Dalam pembuatan keputusan ada dua orang yang mengartikan artian pembuatan keputusan yaitu                               Simon dan Mintzberg

1. Keputusan menurut Simon

Dalam bukunya terbitan Tahun 1977, simon menguraikan istilah keputusan menjadi Keputusan terprogram dan Keputusan tak terprogram.

  • Keputusan terprogram yaitu bersifat berulang-ulang dan rutin. pada suatu tingkat tertentu dan prosedur telah di tetapkan untuk menanganinya sehingga ia dianggap suatu denovo (yang baru) setiap kali terjadi.
  • Keputusan tak terprogram yaitu bersifat baru, tidak terstruktur, dan biasanya tidak urut. Ia juga menjelaskan bahwa dua jenis keputusan tersebut hanyalah kesatuan ujung yang terangkai secara hitam putih, sifatnya begitu kelabu atau tak jelas, namun demikian konsep keputusan terprogram dan tak terprogram sangatlah penting, karna masingmasing memerlukan teknik yang berbeda. Kontribusi Simon yang lain adalah penjelasan mengenai empat fase yang harus di jalani oleh Manajer dalam menyelesaikan masalah.

a. Tahap Pengambilan Keputusan Menurut Simon :

  • Aktivitas intelegensi, yaitu mencari kondisi dalam lingkungan yang memerlukan pemecahan
  • Aktivitas disain, yaitu menemukan, mengembangkan, dan menganalisis kemungkinan tindakan yang akan dilakukan.
  • Aktivitas pemilihan, yaitu menentukan cara tindakan cara tertentu dari beberapa cara yang sudah ada.
  • Aktivitas peninjauan kembali, yaitu memberikan penilaian terhadap pilihan yang telah dilakukan.

2. Keputusan menurut Mintzberg

Mintzberg terkenal dengan teorinya mengenai peranan manajerial, teori ini mengemukakan sepuluh peranan manajerial yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu interpersonal, informasional, desisional. Peranan informasonal mengemukakan bahwa manajer mengumpulkan dan menyebarkan informasi, dan peranan desisional mengemukakan bahwa manajer menggunakan informasi dalam pembuatan berbagai jenis keputusan.

a. Ada empat peranan desisional menurut mintzberg :

  • Pengusaha, ketika manajer berperan sebagai pengusaha (entrepreneur) maka peningkatan hal ini yang bersifat permanent diabadikan sebagai organisasi.
  • Orang yang menangani gangguan, ketika menajer berperan sebagai orang yang menangani gangguan (disturbace handler), maka ia akan memecahkan masalah yang belum di antisipasi. Ia membuat keputusan untuk merespon gangguan yang timbul seperti perubahan ekonomi, ancaman dari pesaing, dan adanya peraturan pajak baru.
  • Pengalokasi sumber, dengan peranan sebagai pengalokasi sumber (resorce alocator), manajer diharapkan mampu menentukan pembagian sumber organisasi kepada berbagai unit yang ada misalnya pembuatan keputusan untuk menetapkan anggaran operasi tahunan.
  • Negosiator, dalm peran sebagai negosiator (negotiator), manajer mengatasi perselisihan yang muncul dalam perusahaan dan perselisihan yang terjadi antara perusahaan dan lingkungannya. Contohnya melakukan negosiasi kontrak baru dengan serikat pekerja.

3.   DSS (Decision Suport system)

Pengembang DSS berawal pada akhir tahun 1960-an dengan adanya pengguna computer secara time-sharing (berdasarkan pembagian waktu). Pada mulanya seseorang dapat berinteraksi langsung dengan computer tanpa harus melalui spesialis informasi. Time sharing membuka peluang baru dalam penggunaan computer. Tidak sampai tahun 1971, ditemukan istilah DSS, G Anthony Gorry dan Michael S. Scott Morton yang keduanya frofesor MIT, bersama-sama menulis artikel dalam jurnal yang berjudul “A Framework for Management Information System” mereka merasakan perlunya ada kerangka untuk menyalurkan aplikasi computer terhadap pembuatan keputusan manajemen.

Gorry dan Scott Morton mendasarkan kerangka kerjanya pada jenis keputusan menurut Simon dan tingkat manajemen dari Robert N. Anthony. Anthony menggunakan istilah Strategic palnning, managemen control dan operational control (perencanaan strategis, control manajemen, dan control

a. Jenis DSS

Usaha berikutnya dalam mendefinisikan konsep DSS dilakuikan oleh Steven L. Alter. Alter melakukan study terhadap 56 sistem penunjang keputusan yang digunakan pada waktu itu, study tersebut memberikan pengetahuan dalam mengidentifikasi enam jenis DSS,

  • Retrive information element (memanggil eleman
  • Analyze entries fles (menganali semua file)
  • Prepare reports form multiple files (laporan standart dari beberapa files)
  • Estimate decisions qonsquences (meramalkan akibat dari keputusan)
  • Propose decision (menawarkan keputusan )
  • Make decisions (membuat keputusan)

4.   TUJUAN DSS

Dalam DDS terdapat tiga tujuan yang harus di capai yaitu :

  • Membantu manajer dalam pembuatan keputusan untuk memecahkan masalah semi terstruktur Mendukung keputusan manajer, dan bukannya mengubah atau mengganti keputusan tersebut
  • Meningkatkan efektivitas menajer dalam pembuatan keputusan, dan bukannya peningkatan efisiensi Tujuan ini berkaitan dengan tiga prinsip dasar dari konsep DSS, yaitu struktur masalah, dukungan keputusan, dan efektivitas keputusan.

5.   ARTI DSS

DSS sebagai sebuah system yang memberikan dukungan kepada seorang manajer, atau kepada sekelompok manajer yang relative kecil yang bekerja sebagai team pemecah masalah, dalam memecahkan masalah semi terstrukitur dengan memberikan informasi atau saran mengenai keputusan tertentu. Informasi tersebut diberikan oleh laporan berkala, laporan khusus, maupun output dari model matematis. Model tersebut juga mempunyai kemampuan untuk memberikan saran dalam tingkat yang bervariasi

6.   CARA PENGGUNAAN INFORMASI DARI DSS

Pada dasarnya dua pengguna informasi dari DSS oleh manajer, yaitu untuk mendefinisikan masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pendefinisian masalah adalah usaha definisi dari pendekatan system. Ia juga berkaitan dengan fase intelegensi yang di kemukakan oleh simon. Selanjutnya manjer menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang telah diidentifikasi. Hal ini merupakan usaha pemecahan menurut poendekatan sistim dan berkaitan denga fase disain dan pemilihan. Pada umumnya, lapaoran berkala dan khusus digunakan terutama dalam usaha definisi, dan simulasi dalam usaha pemecahan Laporan berkala dapat di rancang untuk menidentifikasi masalah atau masalah yang kemungkinan besar akan muncul, manjer juga melakukan query terhadap database untuk menemukan masalah atau mempelajari lebih jauh lagi mengenai masalah yang telah di identifikasi. Simulasi dapat juga membuka masalah yang tersembunyi, karna kelemahan cenderung akan kelihatan menonjol ketika operasi perusahaan diubah secara matematis. Laporan berkala dan khusus dapat juga membantu manajer untuk memecahkan masalah dengan cara mengidentifikasi keputusan alternative, mengevaluasi dan memilih alternative tersebut, dan memberikan informasi lanjutan.

Contoh Sistem Penunjang Keputusan :

Image

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2012 in Uncategorized

 

ANALISIS PERBANDINGAN WEBSITE LOWONGAN KERJA

ANALISIS PERBANDINGAN WEBSITE LOWONGAN KERJA

Dewasa ini teknologi semakin maju dan berkembangang pesat. salah satu contohnya adalah internet. Internet adalah jaringan global komputer dunia, besar dan sangat luas sekali dimana setiap komputer saling terhubung satu sama lainnya dari negara ke negara lainnya di seluruh dunia. kehadiran internet saat ini membawa keuntungan yang sangat besar. salah satunya bagi mereka yang mau mencari pekerjaan. Para pencari kerja sekarang tidak harus susah-susah mencari pekerjaan dengan mendatangi tempat pekerjaan yang mereka inginkan. Sekarang mereka dapat langsung mencari informasi tentang lowongan kerja malalui website-website lowongan kerja yang ada di internet. Dengan begitu mereka tidak harus mengeluarkan biaya yang mahal hanya untuk mencari lowongan pekerjaan.

Dibawah ini saya akan menganalisa & membandingkan 3 website lowongan kerja. Semoga informasi ini dapat berguna bagi anda yang membacanya.

1. www.jobindo.com

Pada saat pertama kita membuka website http://www.jobindo.com disana terdapat kolom untuk mencari pekerjaan berdasarkan posisi, lokasi dan jabatan. Tampilan yang disuguhkan pada website biasa saja, sub menu yang ditampilkan tidak terlalu banyak. Lalu kita diharuskan untuk mendaftar atau register terlebih dahulu. Setelah kita sudah selesai mendaftar, kita dapat langsung mencari lowongan pekerjaan yang kita cari, atau bisa mengklik “job search”. Disana terdapat tabel berisikan berbagai macam lowongan pekerjaan, syarat pendidikan untuk pekerjaan yang kita cari, kemudian ada perusahaan yang menawarkan lowongan pekerjaan tersebut serta lokasi perusahaan dan juga gaji yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut. Kita dapat mengclick posisi pekerjaan yang kita inginkan, setelah itu akan muncul tab baru yang didalamnya berisi alamat perusahaan dan syarat untuk pekerjaan tersebut. Anda juga dapat langsung mendaftarkan diri anda jika berminat pada pekerjaan tersebut (diharuskan mempunyai akun).

Image

Kekurangan website ini adalah Sekilas tampak menarik saat pertama membuka, tapi setelah kita melihat list lowongan pekerjaan yang berurutan dan tampilan yang terlihat kaku. Membuat para pencari pekerja agak kurang bersemangat untuk melihatnya. Namun disamping kekurangan tersebut, website loker ini cukup memberikan informasi yang bermanfaat bagi mereka yang ingin mencari pekerjaan.

2. http://www.karir.com

Website ini menyediakan 2 bahasa, yaitu Inggri dan Indonesia. Mungkin berguna untuk orang asing yang mau mencari lowongan kerja dan belom begitu memahami bahasa Indonesia. Namun kita bisa memilih bahasa  mana yang akan kita gunakan agar tidak kesulitan untuk mendapatkan informasi yang tersedia. Untuk tampilan dari website itu sendiri menurut saya cukup menarik, kita bisa melihat tampilan yang simple tapi tidak membosankan seperti website yang saya bahas sebelumnya. Walaupun tampilan menu juga tidak jauh beda dengan website sebelumnya. Seperti biasa, kita diharuskan untuk register atau mendaftar terlebih dahulu. Setelah kita mendaftar kita bisa memilih menu “pencari karir”, disana tersedia 3 sub menu. Jika kita memilih sub menu “cari semua lowongan” maka website akan menyediakan menu semacam search engine untuk mencari jenis karir apakah yang kita inginkan berdasarkan posisi dan sebagainya. Intinya menu ini berguna untuk mencari lowongan kerja yang kita inginkan secara spesifik. Kemudian untuk submenu ke 2 yaitu “cari lowongan terkini”, disana kita akan menemukan list atau daftar perusahaan dan posisi yang tersedia di perusahaan tersebut. Tidak jauh berbeda dengan website sebelumnya, namun tidak se-membosankan website sebelumnya yang terlihat kaku. Untuk persyaratan melihat persyaratan lowongan kerja yang tersedia kita hanya perlu mengclick perusahaan mana yang kita minati, maka akan muncul persyaratan yang diperlukan (tidak jauh berbeda dengan website sebelumnya)

Secara keseluruhan, Website ini terlihat lebih menarik dibanding dengan website sebelumnya. Tampilan yang disuguhkan juga tidak terlihat kaku, walaupun belum membuat kita antusias untuk melihat website ini. Tapi konten atau isi yang disediakan cukup banyak dan bermanfaat bagi mereka pencari kerja.

3. http://www.carijob.com

Pertama kita membuka website maka kita akan sadar bahwa website ini jauh lebih baik dibanding website sebelumnya yang sudah saya bahas. Dari segi tampilan. website ini menyediakan gambara-gambar,berita ataupun advertisement (iklan) yang ditampilkan membuat kita tertarik untuk menjalajahinya. Tidak hanya terlihat bagus dalam tampilan, tapi dalam segi menu-pun juga tidak kalah menarik.  Disana tersedia menu-menu yang detail agar memudahkan para pencari kerja untuk mendapatkan informasi secara spesific (detail) dan jelas. Lalu juga ada statistik perusahaan, data pelamar serta data yang lainnya yang membuat kita berfikir bahwa website ini menyediakan lowongan kerja yang sangat banyak. Untuk mencari lowongan pekerjaan, seperti website lainnya kita diharuskan mendaftar terlebih dahulu. Setelah itu, kita bisa langsung mencari lowongan pekerjaan yang kita inginkan. Website menyediakan list atau daftar jenis jabatan atau pekerjaan apa yang kita inginkan, jadi pencari kerja tidak perlu repot-repot untuk search-ing karena sudah ada (seperti dibawah ini).

Setelah kita melihat website ini, maka kita tau perbedaan antara ke-3 website yang sudah kita bahas. Untuk tampilan, seperti yang saya bahas jauh lebih baik dari 2 website sebelumnya. Terlihat kreatif dan sangat menarik bagi para pencari kerja ataupun orang yang membuka website ini. Menu yang detail membuat mereka yang membaca tidak kesulitan untuk mencari informasi yang ingin dicari. Untuk kekurangan, menurut saya website ini tidak memilikinya. Itu hanya pendapat saya, semuanya saya kembalikan ke para pembaca blog ini untuk menilai.

Kesimpulan

Dari 3 website lowongan kerja yang sudah saya bahas diatas, mereka memiliki ciri-ciri ataupun keunikan masing-masing. Pada 2 website pertama mungkin menekankan pada ke simple-an atau kesederhanaan dari website itu sendiri. mereka lebih memfokuskan pada isi daripada penampilan ataupun segi yang lainnya. Tidak seperti website yang ke-3 yang memang memperhatikan semua aspek yang mungkin dapat mempengaruhi orang yang membacanya (Mengundang para pembaca). Namun ke-3 website diatas tidak mengurangi arti bahwa ke-tiganya adalah website lowongan kerja yang dibuat untuk membantu para pencari kerja untuk mencari lowongan pekerjaan.

Sekian informasi yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi anda yang membaca.

SUMBER

1. http://www.jobindo.com

2. http://www.karir.com

3. http://www.carijob.com

 
Leave a comment

Posted by on October 6, 2012 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 268 other followers